Rabu, 6 Mei 2026

Opini

Opini - FOMO dalam Dunia Subjektif: Pelajaran dari Thomas Nagel

Fenomena tersebut dapat dipahami melalui konsep FOMO atau fear of missing out, yaitu ketakutan akan tertinggal dari pengalaman orang lain.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Pascalianus Arky Banunaek 

Pengalaman manusia pada dasarnya bersifat subjektif, artinya hanya dapat dirasakan secara langsung oleh individu yang mengalaminya.

Namun, media sosial menciptakan ilusi bahwa pengalaman tersebut dapat dilihat, dipahami, bahkan “dimiliki” oleh orang lain.

Di sinilah terjadi kekeliruan mendasar dalam memahami pengetahuan tentang pengalaman, manusia mengira bahwa apa yang dilihat sama dengan apa yang dialami, padahal keduanya berada dalam dimensi yang berbeda.

Pemikiran Thomas Nagel membantu menjelaskan keterbatasan ini melalui gagasannya tentang pengalaman subjektif, terutama dalam esai What Is It Like to Be a Bat?

Nagel menegaskan bahwa setiap makhluk memiliki pengalaman batin yang tidak dapat sepenuhnya dipahami oleh orang lain. Kita mungkin dapat mengetahui fakta tentang orang lain, tetapi tidak pernah benar-benar mengetahui “apa rasanya menjadi mereka”.

Dalam konteks FOMO, kesalahan terjadi ketika seseorang mengira bahwa ia bisa mengalami kehidupan orang lain hanya dengan melihatnya.

Kasus Jasmine menunjukkan bagaimana keinginan untuk menjadi seperti figur ideal sebenarnya adalah upaya memasuki pengalaman subjektif yang bukan miliknya.

Namun, perubahan fisik tidak pernah mampu mengubah kesadaran batin seseorang. Yang terjadi hanyalah peniruan pada tingkat permukaan, bukan pengalaman yang sesungguhnya, di sinilah FOMO bekerja sebagai ilusi epistemologis yang menyesatkan

Fenomena FOMO bukan sekadar persoalan sosial, tetapi juga persoalan filosofis yang menyentuh cara manusia memahami dirinya.

Dalam dunia yang semakin terhubung, individu justru berisiko kehilangan dirinya sendiri karena terlalu fokus pada kehidupan orang lain.

Kasus Jasmine menjadi contoh nyata bagaimana tekanan sosial dapat mendorong seseorang untuk keluar dari batas autentisitas dirinya.

Padahal, setiap individu memiliki pengalaman yang tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan orang lain. Kesadaran akan subjektivitas pengalaman menjadi penting untuk menjaga keseimbangan dalam hidup. Tanpa kesadaran ini, manusia akan terus terjebak dalam perbandingan yang tidak pernah selesai.

FOMO kemudian menjadi siklus yang berulang tanpa titik akhir. Oleh karena itu, refleksi filosofis menjadi sangat relevan di tengah perkembangan zaman.

Kesadaran Diri menjadi Kuncinya

Pemikiran Thomas Nagel mengajarkan bahwa ada batas yang tidak bisa dilampaui dalam memahami pengalaman orang lain. FOMO muncul ketika manusia melupakan batas tersebut dan mencoba hidup dalam bayangan orang lain.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved