Senin, 20 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 19 April 2026: Kembali kepada Gembala

Petrus kembali ke Roma dan akhirnya wafat sebagai martir, disalibkan terbalik karena merasa tidak layak mati seperti Gurunya. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI POS-KUPANG.COM
Leo Mali, Pr 

Oleh: RD. Leo Mali
Rohaniwan dan Dosen Fakultas Filsafat Unwira Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Banyak orang tidak sadar bahwa mereka tersesat. Itu yang terjadi ketika lautan massa ikut arus, beramai-ramai menghukum Yesus dari Nazareth. 

Padahal tentang Dia, para nabi telah bersaksi (bdk. Yes. 53; Mzm. 22). Bahkan Daud, raja besar bangsa Yahudi, telah meramalkan kedatangan-Nya (bdk. Mzm. 16:10; Kis. 2:25-31). 

Demikian ditegaskan oleh Petrus dalam khotbahnya yang membakar pada hari Pentekosta, suatu peristiwa yang menandai kelahiran Gereja oleh kuasa Roh Kudus (Kis. 2:1-13). 

“Kamu semua orang Yahudi dan kamu yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini… Yesus dari Nazaret adalah seorang yang ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan, mukjizat dan tanda-tanda… Dia yang diserahkan menurut maksud dan rencana Allah, telah kamu salibkan dan kamu bunuh… tetapi Allah membangkitkan Dia…” (Kis. 2:22-24). 

Baca juga: Opini: Tangan yang Menenun, Hidup yang Belum Terjalin

Petrus menegaskan kesaksian dalam khotbahnya agar orang-orang yang mendengarnya sadar bahwa mereka telah tersesat. 

Maka jalan untuk selamat adalah mereka harus bertobat, mengaku kesalahan mereka dan kembali percaya kepada Allah (Kis. 2:37-38). 

Kesaksian Petrus adalah kesaksian yang benar, karena ia menuntun semua orang untuk kembali kepada Allah. 

Inilah suara kebenaran yang sesungguhnya.  Dalam terang Injil Yohanes, inilah suara Sang Gembala yang sejati yang dikenal oleh domba-domba-Nya (Yoh. 10:3-4).

Namun, kesaksian Petrus pada hari Pentekosta adalah buah dari sebuah proses pembaruan diri yang dikerjakan oleh Allah dalam hidupnya. 

Petrus juga melewati kemelut iman seperti dialami oleh dua murid dalam perjalanan ke Emaus (Luk. 24:13- 35). 

Seperti mereka, Petrus pernah kecewa dan goyah. Dalam waktu-waktu tertentu, matanya tertutup dan tidak mengenal Allah. 

Ia menyangkal Yesus tiga kali (Luk. 22:54-62), bahkan pernah ditegur keras oleh Yesus karena berpikir menurut caramanusia (Mat. 16:23). 

Namun, ia juga adalah pribadi yang dipilih: “Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku” (Mat. 16:18). 

Di sinilah kita melihat dinamika iman yang nyata: jatuh, bangkit, dandiperbarui. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved