Jumat, 5 Juni 2026

Opini

Opini: Semuanya Baik-Baik Saja

Foucault menegaskan bahwa kekuasaan modern bekerja melalui produksi wacana, bukan hanya paksaan. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-DOK PRIBADI
Goldy Ogur 

Masyarakat tidak lagi berdialog, tetapi lebih banyak menerima informasi satu arah.

Jurgen Habermas menekankan bahwa ruang publik yang ideal adalah ruang komunikasi yang bebas dari dominasi. Dalam ruang seperti ini, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menyampaikan pendapat. Tujuannya adalah mencapai pemahaman bersama yang lebih rasional.

Namun dalam kenyataan, tidak semua suara memiliki ruang yang sama. Suara dari kelompok kecil atau masyarakat bawah sering kali kurang terdengar. Sementara itu, narasi dari pihak yang memiliki kekuasaan lebih mudah tersebar luas.

Ketika kritik dianggap mengganggu, maka ruang publik kehilangan fungsi utamanya.

Padahal, kritik adalah bagian penting dari proses perbaikan sosial. Tanpa kritik, kebijakan sulit untuk dievaluasi secara jujur.

Habermas juga menegaskan bahwa kebenaran lahir dari dialog, bukan dari satu  pihak yang dominan. Jika dialog tidak terjadi secara seimbang, maka pemahaman bersama menjadi tidak utuh.

Dalam konteks ini, narasi “semuanya baik-baik saja” bisa menjadi penghambat
diskusi kritis. 

Ia menciptakan kesan bahwa tidak ada masalah, sehingga kritik dianggap tidak perlu. Padahal, ruang publik yang sehat justru membutuhkan keterbukaan terhadap masalah agar solusi yang lebih baik bisa ditemukan.

Kebohongan, Kebenaran, dan Tanggung Jawab Politik

Dalam kehidupan politik dan sosial, kebenaran adalah hal yang sangat penting. 

Apa yang disampaikan kepada publik tidak hanya membentuk opini, tetapi juga mempengaruhi kebijakan dan tindakan masyarakat. Karena itu, kejujuran menjadi tanggung jawab moral yang besar.

Hannah Arendt mengingatkan bahwa kebohongan atau manipulasi fakta dalam politik dapat menciptakan realitas semu. 

Jika hal ini terus terjadi, masyarakat bisa kehilangan kemampuan untuk membedakan antara kenyataan dan citra yang dibangun. 

Arendt menekankan bahwa politik tanpa kebenaran akan kehilangan arah moralnya. Ketika masalah nyata seperti kegagalan program, ketimpangan ekonomi, atau kesulitan sosial tidak diakui, maka kebijakan yang diambil bisa salah sasaran.

Dalam konteks program seperti MBG, masalah di lapangan seperti pelaksanaan yang tidak konsisten atau kasus keracunan tidak boleh diabaikan. 

Jika hal ini ditutupi demi menjaga citra, maka yang dirugikan adalah masyarakat itu sendiri.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved