Jumat, 5 Juni 2026

Opini

Opini: Semuanya Baik-Baik Saja

Foucault menegaskan bahwa kekuasaan modern bekerja melalui produksi wacana, bukan hanya paksaan. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO-DOK PRIBADI
Goldy Ogur 

Oleh: Goldy Ogur
Mahasiswa IFTK Ledalero, Maumere - Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Di banyak media, kita sering mendengar narasi yang sama: semuanya baik-baik saja.

Narasi ini muncul berulang dalam berita, pidato, dan pernyataan resmi. Pemerintah dan berbagai pihak sering menampilkan data pertumbuhan, keberhasilan program, dan stabilitas sosial. 

Semua itu membentuk kesan bahwa keadaan negara sedang dalam kondisi yang aman dan terkendali. 

Namun, di balik narasi yang terlihat rapi ini, ada realitas yang tidak selalu ikut ditampilkan.

Dalam perspektif Michel Foucault, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga alat kekuasaan. Wacana yang terus diulang dapat membentuk cara masyarakat melihat dunia.

Baca juga: Opini: Menata Pesisir Ndao, Menimbang Hak atas Kota

Ketika “semuanya baik-baik saja” terus disampaikan, maka ia perlahan menjadi kebenaran yang diterima tanpa dipertanyakan.

Foucault menegaskan bahwa kekuasaan modern bekerja melalui produksi wacana, bukan hanya paksaan. 

Artinya, apa yang dianggap benar sering kali ditentukan oleh siapa yang memiliki kuasa untuk berbicara dan menyebarkan narasi. 

Dalam konteks ini, narasi optimisme bisa menjadi alat untuk mengatur cara berpikir publik.

Namun, realitas di lapangan sering kali tidak sesederhana itu. Ketika narasi terus menampilkan keberhasilan, sementara masyarakat mengalami kesulitan, maka muncul Jarak antara bahasa dan kehidupan nyata. Jarak ini lama-kelamaan dapat melahirkan ketidakpercayaan.

Narasi yang terlalu dominan juga berpotensi menyingkirkan suara-suara kritis.

Mereka yang mengangkat masalah sering kali dianggap negatif atau tidak mendukung.

Padahal, kritik justru penting untuk menjaga keseimbangan informasi. Jika ruang kritik semakin sempit, maka masyarakat hanya menerima satu versi
realitas. 

Dalam kondisi seperti ini, kebenaran menjadi tidak utuh karena hanya dilihat dari satu sudut pandang. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved