Kamis, 14 Mei 2026

Opini

Opini: Iqra- Cahaya yang Tak Terwakilkan

Islam sangat menghargai spesialisasi (expertism). Kita diajarkan tentang Ta’awun (tolong-menolong) dan Wakalah (perwakilan). 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MUHAMMAD G.ARIFOEDDIN
Muhammad G Arifoeddin 

Oleh: H. Muhammad G Arifoeddin, S.Pd, M.M
Ketua Umum MUI Kabupaten TTS Provinsi Nusa Tenggara Timur. 

POS-KUPANG.COM - Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Di tengah dinamika kota yang kian cepat, sebuah spanduk di sudut jalan sering kali memberikan jeda refleksi bagi kita. 

Kalimatnya sederhana namun visioner: “Mari Budayakan Semangat Berbagi Peran.” 

Sebuah ajakan yang dilanjutkan dengan narasi pragmatis: "Biarkan kami yang ahli menangani pakaian kita, sementara kita fokus menjadi ahli di bidang yang kita cintai."

Secara spiritual, ini bukan sekadar urusan laundry atau efisiensi rumah tangga. 

Ini adalah bentuk implementasi dari perintah Allah SWT dalam manajemen kehidupan:
فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Baca juga: Mutiara Ramadhan - Belajar dari Sifat-sifat Tuhan

"Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl: 43)

Islam sangat menghargai spesialisasi (expertism). Kita diajarkan tentang Ta’awun (tolong-menolong) dan Wakalah (perwakilan). 

Menyerahkan urusan teknis—seperti mencuci, memasak, atau memperbaiki rumah—kepada ahlinya adalah langkah cerdas agar energi kita tidak tergerus habis pada urusan sarana, sehingga kita bisa mengalokasikan sumber daya terbaik kita untuk tujuan yang lebih utama: Penyempurnaan pengabdian kepada Allah dan perluasan manfaat bagi sesama.

Tragedi "Jasa Titip" Ilmu dan Iman

Dalam dunia modern, hampir semua hal bisa dibeli: kenyamanan, waktu, hingga bantuan fisik. 

Namun, di balik kemudahan "mendelegasikan" dunia ini, terselip sebuah jebakan yang mematikan bagi ruhani: Anggapan bahwa pertumbuhan jiwa juga bisa diwakilkan.

Bayangkan seorang raja yang memiliki ribuan pelayan. Pelayan bisa menyiapkan hidangan paling mewah, namun pelayan tidak bisa mengunyah dan menelan makanan itu agar sang raja kenyang. 

Jika pelayan yang makan, pelayanlah yang kuat, sementara raja tetap lemah dan kelaparan di atas singgasananya.

Begitulah ilmu dan hidayah. Tak ada "jasa titip" (jastip) untuk kecerdasan ruhani.

Kita mungkin mampu membeli ratusan kitab tafsir tercanggih, namun jika lembarannya tak pernah kita buka dengan mata dan hati kita sendiri, cahaya Al-Qur'an tak akan pernah menembus dinding logika kita.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved