Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Ketika Krisis Iklim dan Beban Ganda Perempuan

Di setiap wilayah Indonesia, perempuan menjadi pihak yang paling terdampak ketika krisis iklim karena memperburuk kondisi hidup. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI VELIN JESSICA
Velin Jessica 

Oleh: Velin Jessica
Staf magang Yayasan Pikul Kupang

POS-KUPANG.COM - Krisis iklim di Indonesia bukan lagi menjadi hal baru atau sekadar isu lingkungan persoalan target penurunan emisi global. 

Bencana seperti cuaca ekstrem dan krisis pangan telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat. 

Dalam realita ini perempuan sering berada di posisi paling rentan sekaligus paling bertanggung jawab. 

Baca juga: Gudang Logistik PLN UPP Nusra 2 Terbakar, Petugas Piket Lihat Ada Percikan Api

Perempuan bukan hanya menghadapi ancaman terhadap kesehatan, ekonomi dan keselamatan tapi juga secara bersamaan memikul beban domestik. 

Namun dalam praktiknya negara lebih menitikberatkan penanganan krisis iklim pada aspek teknis dan ekonomi daripada pengalaman serta kebutuhan perempuan kerap terpinggirkan dalam perumusan kebijakan.

Di setiap wilayah Indonesia, perempuan menjadi pihak yang paling terdampak ketika krisis iklim karena memperburuk kondisi hidup. 

Misalnya, jika terjadi kekeringan maka itu akan memaksa perempuan berjalan lebih jauh untuk mencari air bersih. 

Situasi seperti ini terjadi tahun 2023 saat kekeringan ekstrem melanda wilayah Nusa Tenggara Timur seperti Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan dan Rote Ndao yang membuat perempuan harus berjalan 6-10 kilometer untuk mendapat air bersih. 

Situasi ini diperjelas dengan data dari badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat NTT mengalami puluhan hingga 90 hari tanpa hujan yang disebabkan oleh fenomena El Niño yakni mengurangi curah hujan, memperpanjang kemarau, dan meningkatkan risiko kekeringan ekstrem. 

Fenomena ini juga sangat berdampak bagi petani, peternak dan nelayan, karena mengurangi pendapatan bahkan ada yang kehilangan pekerjaan. 

Dalam kondisi seperti ini, perempuan dihadapkan kembali ke posisi paling rentan yakni harus menanggung dampak lanjutan dari krisis ekonomi rumah tangga, mencari air bersih, mengambil peran tambahan untuk menopang penghidupan keluarga. 

Belum lagi dengan pekerjaan domestik seperti mengurus anak dan anggota keluarga lainnya.

Beban Ganda sebagai Pola Struktural

Kondisi ini mencerminkan bagaimana beban ganda yang secara sistematis dipikul perempuan. 

Ketika gagal panen atau aktivitas melaut terganggu, perempuan tetap dituntut memastikan kebutuhan rumah tangga terpenuhi, mulai dari pangan hingga perawatan anggota keluarga. 

Di saat yang sama, mereka terdorong mencari sumber penghasilan tambahan, sering kali di sektor informal tanpa perlindungan kerja yang memadai. 

Namun realitas ini jarang menjadi pertimbangan dalam perumusan kebijakan iklim yang masih berfokus pada pembangunan infrastruktur dan target ekonomi, sementara kerja perempuan di ruang domestik dan informal terus diabaikan.

Sementara itu selain beban ganda, jika dilihat saat bencana melanda dan harus mengungsi, perempuanlah yang menjadi korban paling rentan. 

Di lokasi pengungsian, perempuan sering menghadapi risiko berlapis, mulai dari keterbatasan akses air bersih, sanitasi tidak layak, hingga minimnya ruang aman bagi perempuan dan anak. 

Mirisnya, di tengah kerentanan yang berlapis ini justru suara perempuan sering absen di meja pengambilan keputusan. 

Dalam forum-forum perencanaan pembangunan, mulai dari tingkat desa hingga nasional, aspirasi perempuan terlebih khususnya mereka yang berhadapan langsung dengan dampak iklim, kerap kali hanya dianggap sebagai pelengkap administratif. 

Pendekatan teknokratis pemerintah yang mengedepankan pembangunan fisik, seperti bendungan atau tanggul, sering kali luput memotret kebutuhan mendasar perempuan, yakni akses terhadap jaminan sosial, jaminan perlindungan atau teknologi tepat guna yang meringankan beban domestik mereka.

Akibatnya, ketahanan iklim yang dibangun menjadi rapuh karena mengabaikan separuh dari populasi yang justru menjadi tumpuan pertahanan terakhir dalam keluarga. 

Menormalisasikan beban ganda ini sebagai “kodrat” atau kewajiban moral perempuan semata adalah bentuk ketidakadilan sistemis. 

Dalam hal ini krisis iklim bukan hanya soal menyelamatkan lingkungan tetapi juga soal merombak struktur sosial yang selama ini menindas. 

Kita tidak bisa Kita tidak bisa bicara soal target emisi nol bersih (net zero emissions) jika dalam prosesnya kita membiarkan perempuan terus menerus mensubsidi kegagalan negara dalam mengelola krisis melalui kerja-kerja perawatan yang tak berbayar dan tak diakui.

Keadilan Iklim Mensyaratkan Keadilan Gender

Oleh karena itu, narasi penanganan krisis iklim harus segera digeser. Kebijakan yang responsif gender mutlak diperlukan, bukan sekadar jargon, melainkan dalam bentuk aksi nyata penganggaran dan pelibatan perempuan secara bermakna dalam setiap fase mitigasi dan adaptasi. 

Negara harus hadir tidak hanya dengan infrastruktur beton, tetapi dengan jaring pengaman sosial yang mengakui kerentanan spesifik perempuan. 

Pada akhirnya, keadilan iklim mustahil tercapai tanpa adanya keadilan gender. 

Menyelamatkan bumi berarti juga harus membebaskan perempuan dari jerat beban ganda yang tidak manusiawi ini. (*)

Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved