Opini
Opini: Ironi di Jalan Menuju Kuanfatu
Kami menumpang sebuah pikap karena memang tidak ada alternatif kendaraan lain ke sana di akhir tahun ini.
Oleh: Dody Kudji Lede
Warga Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur
POS-KUPANG.COM - Dalam gegap gempita akhir tahun, tatkala sebagian besar dunia bersiap menyalakan kembang api dan meniup terompet menyambut tahun 2026 dengan penuh harapan, saya dan keluarga memilih menyepi, menjauh dari semua hiruk pikuk itu.
Menjauh nyaris seratus lima puluh kilometer dari Kota Kupang untuk satu tujuan jelas: Desa Kuanfatu.
31 Desember 2025, kami memutuskan berangkat cukup pagi bersama beberapa saudara istri saya.
Kami menumpang sebuah pikap karena memang tidak ada alternatif kendaraan lain ke sana di akhir tahun ini.
Kali ini saya cukup antusias berangkat ke sana karena ini pertama kali saya ke kampung halaman istri sejak menyunting dia secara adat, agama dan dengan sepengetahan negara sebelas tahun yang lalu.
Baca juga: Rapat Perdana 2026, Bupati Kupang Tekankan SDM dan Sinergi OPD
Setidaknya liburan akhir tahun ini, bisa saya manfaatkan untuk lebih mendekatkan diri dengan keluarga.
Sebelumnya, di medio 2010-2011 saya sudah sering ke Kuanfatu, tapi pada saat itu karena urusan pekerjaan, dan baru kali ini saya kembali ke sana sebagai bagian dari laki-laki Sabu yang telah memperistri perempuan Kuanfatu.
Terus terang, saya memimpikan perjalan ini sudah sangat lama, tapi baru kali ini bisa terwujud, meski pada akhirnya saya harus mengakui bahwa ini bukanlah sebuah liburan akhir tahun yang santai, melainkan sebuah ujian fisik dan mental yang memaksa kita bertanya ulang tentang arti pemerataan pembangunan.
Tahun di kalender menunjuk angka 2025—sebuah era di mana kita sering berbicara tentang kecerdasan buatan, mobil listrik, dan kemajuan teknologi.
Namun, di jalan menuju Kuanfatu, waktu seolah berhenti, atau bahkan mundur ke belakang.
Antara Hotmix Sejengkal dan Tumpukan Batu
Menyebut akses menuju Kuanfatu sebagai "jalan raya" terasa seperti sebuah penghalusan yang berlebihan.
Apa yang saya lalui lebih tepat disebut sebagai jalur off-road yang dipaksakan menjadi akses publik.
Aspal adalah barang mewah yang langka. Sepanjang perjalanan mulai dari Desa Toineke, Kiufatu, Nunusunu, Kelle, hingga akhir memasuki Kuanfatu, suguhan lubang-lubang menganga yang bukan lagi sekadar menjebak ban, tapi berpotensi mematahkan as roda.
Di beberapa titik, jalanan berubah menjadi kubangan lumpur licin akibat hujan akhir tahun, sementara di titik lain, bebatuan lepas dan tajam siap mengoyak ban kendaraan siapa saja yang lengah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Dody-Kudji-Lede2.jpg)