Opini

Opini: Antara Gemerlap Panggung dan Sunyi Dapur Rakyat

Selamat ulang tahun ke-67, NTT tercinta. Bertumbuhlah bukan hanya di panggung, tetapi juga di hati dan kehidupan rakyatmu.

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI DEWI LEBA
Dewi Leba 

Terbisik Doa serta Harapan di Usia 67 Tahun Nusa Tenggara Timur

Oleh: Dewi Leba, SH. M.Ikom

POS-KUPANG.COM - Enam puluh tujuh tahun bukanlah usia yang muda bagi sebuah provinsi. 

Ia adalah usia kedewasaan, ketika sejarah tak lagi hanya dikenang, tetapi ditimbang; ketika pencapaian patut dirayakan, namun kegagalan tak boleh disembunyikan. 

Di usia ke-67 ini, Nusa Tenggara Timur (NTT) berdiri dengan wajah yang majemuk: kuat dalam budaya, sabar dalam penderitaan, dan setia menunggu perubahan yang benar-benar menyentuh hidup rakyatnya.

NTT sejak lama dilekatkan dengan istilah daerah tertinggal, terluar, dan termiskin. 

Label itu perlahan mulai terkikis oleh kerja pembangunan, namun belum sepenuhnya hilang. 

Baca juga: Peringatan HUT NTT, Festival dan Pameran Pembangunan Digelar Meriah di TTS

Data resmi hingga 2025 masih menempatkan NTT dalam jajaran provinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia, jauh di atas rata-rata nasional. 

Angka memang menunjukkan penurunan bertahap, tetapi bagi banyak keluarga, hidup masih berjalan di garis tipis antara cukup dan kekurangan.

Di satu sisi, gemerlap seremonial panggung pemerintahan, roda kebijakan pemerintahan bergerak, kemajuan sudut kota mulai tumbuh, program hadir, kunjungan kenegaraan disambut rapih dan meriah. 

Jalan perayaan terbentang lancar, spanduk dan baliho berdiri tegak, pidato disampaikan dengan penuh optimisme. 

Namun di sisi lain, di dapur-dapur rakyat kecil, pertanyaan yang sama terus bergema: apakah perubahan itu sudah sampai ke meja makan kami?

Pertanyaan ini bukan tudingan, melainkan kegelisahan yang wajar. Pemerintah telah bekerja, itu tidak bisa dipungkiri. 

Ada kemajuan, ada ikhtiar, ada niat baik yang tercermin dalam berbagai kebijakan. 

Namun kemiskinan di NTT bukan sekadar soal angka; ia adalah persoalan struktural—tentang akses air, pendidikan yang timpang, lapangan kerja yang sempit, dan ketergantungan ekonomi yang panjang.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved