Rabu, 22 April 2026

Opini

Opini: Hiperrealitas dan Simulacra- Ketika Tanda Menggantikan Makna

Filsuf Prancis Jean Baudrillard menawarkan kerangka kritis melalui konsep simulacra dan hiperrealitas. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YUDEL NENO
Yudel Neno 

Iman tidak bertumpu pada citra, melainkan pada perjumpaan nyata: Sabda yang menjadi daging, relasi konkret, dan kesaksian hidup. Inkarnasi menegaskan bahwa keselamatan terjadi dalam sejarah, bukan dalam simulasi.

Bahaya dunia hiperreal adalah reduksi iman menjadi performa. Ritual dapat berubah menjadi konten, kesalehan menjadi citra. 

Gereja menghadapi tantangan untuk hadir di ruang digital tanpa terperangkap dalam logika simulacra. 

Kehadiran digital perlu diarahkan untuk memperdalam iman, bukan sekadar meningkatkan visibilitas.

Kesaksian iman menuntut keberanian untuk hidup secara otentik di tengah budaya citra. Dalam dunia yang terobsesi pada penampilan, iman dipanggil untuk merawat kedalaman dan kejujuran.

Penutup: Merawat Realitas di Tengah Dunia Tanda

Kritik terhadap hiperrealitas bukan ajakan menolak teknologi, melainkan seruan untuk kesadaran kritis. 

Teknologi adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan modern, tetapi logika yang menguasainya perlu terus diuji. 

Tantangan zaman ini bukan kekurangan informasi, melainkan kekurangan makna.

Di tengah banjir tanda dan simulasi, manusia dipanggil untuk kembali merawat realitas: membangun relasi nyata, menghidupi nilai, dan menjaga integritas. Realitas tidak selalu menarik, tetapi di sanalah makna bertumbuh.

Dalam dunia yang semakin hiperreal, tugas manusia bukan sekadar tampil hidup, melainkan sungguh menghidupi hidup itu sendiri. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved