Rabu, 22 April 2026

Opini

Opini: Hiperrealitas dan Simulacra- Ketika Tanda Menggantikan Makna

Filsuf Prancis Jean Baudrillard menawarkan kerangka kritis melalui konsep simulacra dan hiperrealitas. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI YUDEL NENO
Yudel Neno 

Dalam konteks Indonesia, fenomena ini tampak dalam polarisasi opini publik, penyebaran disinformasi, dan pengaburan fakta. Realitas sosial yang kompleks disederhanakan menjadi narasi hitam-putih. 

Media sosial bukan sekadar medium komunikasi, tetapi mesin produksi realitas semu yang memengaruhi cara masyarakat memahami diri dan dunianya.

Implikasi Antropologis: Identitas yang Terfragmentasi

Hiperrealitas membawa implikasi antropologis yang serius. Manusia tidak lagi membangun identitas melalui proses reflektif dan relasional, melainkan melalui representasi simbolik. 

Diri dipentaskan, bukan dihayati. Identitas menjadi proyek visual yang terus diperbarui.

Kondisi ini melahirkan manusia yang terfragmentasi: antara diri nyata dan diri digital. Ketegangan antara keduanya menciptakan kelelahan eksistensial. 

Kehidupan tampak ramai, tetapi rapuh secara batiniah. Relasi tampak luas, tetapi miskin kedalaman.

Fragmentasi ini bukan semata-mata persoalan psikologis. Ia menyentuh pemahaman dasar tentang manusia sebagai makhluk relasional. 

Ketika relasi direduksi menjadi interaksi simbolik, manusia kehilangan ruang untuk mengalami kehadiran yang sungguh-sungguh.

Dimensi Etis: Krisis Kebenaran di Ruang Publik

Hiperrealitas juga memunculkan krisis etis. Dalam dunia simulacra, kebenaran tidak lagi diukur oleh korespondensi dengan fakta, melainkan oleh daya sebar. Yang viral dianggap penting, yang tenang dianggap tidak relevan. 

Etika publik bergeser dari pertimbangan moral menuju kalkulasi popularitas.

Jürgen Habermas mengingatkan pentingnya rasio komunikatif, yakni rasionalitas yang dibangun melalui dialog, argumentasi, dan orientasi pada kebenaran bersama. 

Namun, ruang publik digital sering kali bergerak berlawanan arah. Diskursus rasional digantikan oleh opini instan dan polarisasi emosional.

Dalam konteks ini, demokrasi menghadapi tantangan serius. Ketika ruang publik dikuasai oleh simulacra, keputusan kolektif berisiko dibangun di atas persepsi semu. 

Kebenaran menjadi relatif terhadap narasi yang paling kuat, bukan terhadap argumentasi yang paling sahih.

Refleksi Teologis: Iman dan Inkarnasi di Dunia Simulasi

Dari perspektif teologis, hiperrealitas menantang iman Kristiani yang berakar pada inkarnasi. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved