Opini

Opini:Merawat Identitas dalam Politik

Identitas budaya, adat, bahasa, agama, suku, ras dan suku sesorang adalah pertalian kisah hidup yang unik. 

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/ROBERT ROPO
Anggota KPU Kabupaten Manggarai Timur, Konrad Sandur 

Oleh: Konrad Sandur
Angota KPU Kabupaten Manggarai Timur

POS-KUPANG.COM - Keberagamaan suku, agama, ras, warna kulit, adat istiadat dan budaya merupakan sebuah fakta yang tidak dapat dipungkiri dalam kehidupan bersama. 

Ia menjadi berkat yang patut disyukuri sebagai sebuah bangsa karena walaupun berbeda-beda tetapi, kita masih tetap satu, yakni sebagai warga negara Indonesia. 

Namun di sisi lain, keberagamaan tersebut penting untuk dijaga dengan kejernihan berpikir agar ia tidak menjadi buas dan menghancurkan ciri harmoni sebagai warga negara terutama dalam konteks politik.

Idealnya politik adalah panggung untuk menata hidup bersama secara adil, merata dan sejahtera. 

Baca juga: Opini: Antara Diskon, Promosi dan Ilusi Hemat

Politik dalam hal ini merupakan instrumen yang paling masuk akal dalam menjaga agar warisan perbedaan tersebut tetap utuh dan berkelanjutan. 

Setidaknya desain politik dalam keberagamaan membantu agar setiap orang hidup seturut konteks dan nilai-nilai luhurnya serta berada secara harmoni dengan faktum perbedaan yang lainnya. 

Pertanyaannya bagaimana hal itu mungkin bertahan dan terus berlanjut dalam tatanan berdemokrasi?

Kita dapat memulainya dengan menelusuri pertanyaan-pertanyaan sederhana “Siapakah nama Anda?,” “Dari mana Anda berasal?” atau “Tolong identitas penduduk (KTP)!” dapat  dijumpai dalam hidup harian. 

Pertanyaan ini sederhana tetapi ia menyentuh bagian penting hidup sosial, yaitu identitas. 

Nama, tanggal lahir, alamat, agama, status, suku, adat, bangsa, bahasa, agama dan budaya menjadi tanda yang melekat dalam diri sesorang. 
 
Namun, jalannya peradapan dengan fakta kemajemukan identitas ternyata tidak berjalan mulus. Dunia pernah mengalami pergolakan atas nama identitas. 

Orang Katolik Fleming dan Walloon atau Muslim Turki, Kurdi dan Arab memiliki agama yang sama tetapi terlibat dalam pertikaian. 

Umat Ortodoks Serbia, umat Katolik Kroasia dan Umat Muslim di Bosnia memiliki bahasa yang sama tetapi terpecah-pecah. 

Demikian Amin Maalouf dalam bukunya, In the Name of Identity (2004), mengisahkan sisi lain tentang identitas. 

Lalu bagaimana kita dapat menjadikannya sebagai modal sosial untuk membangun hidup bersama yang lebih baik?

Pertalian Kisah

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved