Opini

Opini: Anak Belajar Jujur dari Rumah

Dalam banyak kasus, bibit perilaku koruptif tidak tumbuh dari kemiskinan, bukan pula dari kurangnya pendidikan formal. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ELINDA RIZKASARI
Elinda Rizkasari 

Hari Antikorupsi Menguji Parenting Kita

Oleh: Dr. Elinda Rizkasari,S.Pd.,M.Pd
Dosen prodi PGSD Unisri Surakarta

POS-KUPANG.COM - Setiap tanggal 9 Desember, dunia memperingati Hari Antikorupsi Sedunia

Di Indonesia, peringatan ini sering dipahami sebagai urusan pejabat, politik, dan birokrasi. 

Padahal jauh sebelum korupsi merusak institusi negara, ia tumbuh dari tempat yang paling dekat dan paling menentukan masa depan bangsa yaitu rumah. 

Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan tentang operasi tangkap tangan, dugaan penyalahgunaan dana bantuan, atau proyek yang dikerjakan asal-asalan, ada satu pertanyaan penting yang patut kita renungkan. 

Apakah kita, sebagai orang tua, telah mengajarkan kejujuran pada anak-anak kita?

Baca juga: BREAKING NEWS: Kejaksaan Tetapkan Dua Tersangka Korupsi Pabrik Garam Yodium di Kota Kupang

Kita sering membayangkan korupsi sebagai tindakan besar: menyuap pejabat, memanipulasi anggaran, mengambil keuntungan dari dana publik. 

Namun bagi seorang anak, bibit korupsi tumbuh dari hal-hal kecil yang dilakukan orang dewasa di sekelilingnya. Masalahnya, anak meniru sebelum mereka mengerti. 

Anak lebih cepat menyerap perilaku daripada nasihat. Dalam dunia pendidikan anak dini, ini disebut modeling anak bukan mendengar apa yang kita katakan, tetapi melihat apa yang kita lakukan.

Contoh kecil ini terjadi di Bandung pada tahun 2024. Seorang guru sekolah dasar menceritakan bagaimana seorang murid kelas tiga menangis saat ditegur karena mencontek

Ketika gurunya bertanya mengapa ia melakukan itu, sang anak menjawab polos bahwa di rumah, ia sering mendengar orang tuanya berkata “yang penting hasilnya bagus, cara belakangan.” 

Ungkapan sederhana, tetapi kuat sekali pengaruhnya. Anak itu bukan sedang belajar mencontek; ia sedang belajar bahwa tujuan dapat membenarkan cara, sekecil apa pun kesalahannya. 

Inilah pola pikir yang, ketika tumbuh dewasa, dapat berubah menjadi legitimasi untuk melakukan korupsi.

Dalam banyak kasus, bibit perilaku koruptif tidak tumbuh dari kemiskinan, bukan pula dari kurangnya pendidikan formal. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved