Opini
Opini: Menelisik Perbedaan D3 dan D4
Kemampuan operasional dianggap sangat pas. Juga kemampuan teknis sebagai operator ahli dianggap pas dan memadai.
Oleh: Robert Bala
Penulis buku: Rancang Diri, Raih Karier. Penerbit Tanah Air Beta.
POS-KUPANG.COM - Beberapa saat lalu saya mengikuti acara wisuda seorang kerabat, lulusan D3 sebuah Perguruan Tinggi. Ketika mengetahui bahwa ia lulusan D3 saya bertanya, mengapa tidak ambil D4? Tanggung sekali.
Jawabannya membuat saya terkejut. Ia mengikuti program D3 karena hanya itulah yang ditawarkan saat itu dan D3 menjadi satunya program yang ada di Perguruan Tinggi tersebut.
Dari pertemuan itu saya tersentuh untuk menulis artikel ini: Apa perbedaan substansial antara D3 dan D4?
Baca juga: ATK Gelar Wisuda Diploma lll, Penjabat Gubernur NTT: Optimalisasi Potensi untuk Bangun Negeri
Pertanyaan ini muncul karena banyak orang yang hanya membedakan dari jenis angka di balik D (diploma) yang menandakan lamanya tahun belajar.
Atau ada yang berpikir, ambil saja program ‘pendek’ dan setelahnya ketika ada modal bisa meneruskannya. Hal ini masuk akal. Tetapi memulai lagi untuk belajar itu sesuatu yang tidak mudah.
Selain itu menemukan Prodi D4 sebagai lanjutan tentu juga bukan hal yang mudah karena oleh perbedaan institusi, terdapat penekanan pada mata kuliah yang akhirnya harus diambil kembali mengikuti visi dan misi Perguruan Tinggi.
Perbedaan Substansial
Banyak yang memilih program D3 karena program ini berbasis keterampilan teknis (skill based). Dari sisi keahlian dan kompetensi, Program D3 adalah bagian tertinggi dari segi keterampilan teknis.
Ia menjadi lebih sempurna dibandingkan dengan Diploma 2 (D2) apalagi Diploma 1 (D1).
Kompetensi ini sesuai dan memadai dengan gelar ahli madya yang melekat pada lulusan D3 yang juga berada pada level 5 KKNI.
Kemampuan operasional dianggap sangat pas. Juga kemampuan teknis sebagai operator ahli dianggap pas dan memadai.
Jabatan dan kompetensi D3 seperti ini saat-saat awal bekerja dianggap wajar dan normal.
Siapa pun yang baru lulus dalam satu bidang tidak akan langsung dipercayakan untuk jabatan manajerial.
Jelasnya, dengan demikian kemampuan operasional dengan menjadi operator ahli, misalnya sebagai teknisi laboratorium, analis, operator mesin, staf administrasi teknis adalah jabatan yang wajar.
Persoalannya, apa yang terjadi dengan berjalannya waktu dan usia dan terutama oleh akumulasi pengalaman yang dimiliki?
Jelas, telah tercapai profesionalisme, yang telah dibangun secara bertahap dari bawah.
Dengan kemampuannya yang lebih dari lulusan D1 dan D2, pengalaman kian memantaskan seseorang untuk menduduki jabatan struktural yang jauh lebih tinggi.
Di sini kekurangan sekaligus perbedan substansial itu terasa. Lulusan D3 dianggap tidak pantas menjadi kepala atau manajer hanya karena kekurangan dalam kompetensi manajerial melalui ijazah D4.
Perkuliahan D4 yang lebih memperuncing pengetahuan dan analisis.
Selain itu lulusan D4 (dianggap) telah memperoleh juga latihan kepemimpinan terutama dalam pengambilan keputusan, dianggap kurang hal mana menghalangi pencapaian jabatan sebagai pemimpin.
D4 atau Sarjana Terapan yang selevel dengan S1 (N6) dengan 145 SKS (dibandingkan dengan 120 SKS Program D3) memiliki fokus untuk menyiapkan seseorang menjadi : supervisor, analis ahli, perancang sistem, dan teknologi.
Di sini terlihat perbedaan substansial antara D3 dan D4. D4 dianggap lebih lengkap karena memberikan kepada lulusannya untuk memiliki kemampuan teknis, manajerial, dan riset terapan.
Dengan demikian maka D3 bisa saja memberikan kemampuan yang cukup untuk melaksanakan pekerjaan teknis.
Namun oleh pengalaman dan tempaan waktu ditambah dengan riset yang telah dilakukan menjadikan seseorang menjadi profesional dan telah matang dalam karier.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Robert-Bala-ceramah.jpg)