Cerpen
Cerpen: Kurang Adab
Jessica adalah sosok yang cukup kompeten, tidak heran alasan PHK-nya terus dipertanyakan. Ditambah lagi Felicia yang tiba-tiba naik jabatan.
Oleh: Defi Darmawan *
POS-KUPANG.COM - Persis di jantung kota itu, berdiri gedung tua berbata merah, sedikit menyolok di antara menara-menara kaca yang dingin dan angkuh, seolah ia satu-satunya yang masih tersisa dari memar-memar masa lalu.
Di balik dinding batu tua itu, seorang wanita 25 tahun, tak menyolok namun mustahil untuk tak diabaikan, baru saja naik jabatan hanya dalam semalam, di tengah carut marutnya perusahaan.
Ribuan karyawan di-PHK tanpa kompensasi, tanpa penjelasan, bukan karena kejam melainkan karena nyali sudah habis.
Satu persatu hilang, ditelan dalam arus uang hitam yang tak berhenti berputar, semakin dalam, semakin tak terlihat ujungnya.
“Selamat Felicia, kamu memang yang terbaik.”
“Terima kasih, atas kesetiaanmu dengan perusahaan ini.” Ucap dua laki laki dengan jabatan tertinggi di perusahaan itu.
Baca juga: Cerpen: Malam yang Terputus di Km 72
“Terima kasih, Pak, suatu pencapaian baru bagi saya,” sambil menyalimi mereka, memperbaiki pasminanya sebelum akhirnya berfoto bersama.
Perayaan yang cukup meriah, menjejerkan pizza sepanjang satu meter, tidak lupa dengan tumpeng bertuliskan, “Congratulations, Felicia” pada bagian ujungnya.
Di belakang pintu, terdengar banyak suara sumbang bertebaran bagaikan debu lantai. Bahaya, namun tak terlihat.
“Padahal baru dua tahun, tapi udah bisa naik jabatan gitu ya….”
“Paling juga main belakang sama bos.”
“Dia mah ga sebanding sama Jessica.”
Hatinya terasa berat. Ia tahu bahwa posisi ini milik Jessica, karyawan yang baru saja kena PHK.
Jessica adalah sosok yang cukup kompeten, tidak heran alasan PHK-nya terus dipertanyakan. Ditambah lagi Felicia yang tiba-tiba naik jabatan.
Tetapi ia merasa ini hasil yang setimpal. Selama ini, ia sudah menunjukkan performa terbaik, tentu bukan hanya soal berkas dan dokumen, melainkan dirinya yang tak pernah kenal lelah.
Bukan pula soal lama dan tidaknya mengabdi, tetapi soal hati yang selalu bersungguh, toh yang lama belum tentu berniat.
Hari-hari berlalu, mengalir tak henti diikuti suasana kantor yang masam, tak ada senyuman hangat, tak ada ucapan selamat yang tulus, tak ada tegur sapa yang hidup.
Yang ada hanya tatapan kosong, bisik-bisik di sudut ruangan, dan hawa dingin yang kini terasa lebih menusuk walau di ruangan yang berbeda, lebih luas, dan lebih tinggi dari sebelumnya.
Semua sama saja. Kantor ini tetap membeku, layaknya gedung tua dengan balutan bata merah, tetapi isinya sudah lama membusuk.
Felicia membawa semua kenyataan ini ke dalam masjid setiap kali pulang kantor. Dia tak pernah melewati waktu salat sekali pun.
Masjid di dekat kosannya itulah yang selalu menjadi tempat tumpuan terakhir untuk mencurahkan segalanya.
Masjid itu tak sering ramai, hanya beberapa orang, itu pun ketika waktu-waktu salat saja.
Namun, Badir, seorang marbot masjid selalu setia di sana. Sejak 9 tahun lalu, Badir menjadi orang yang cukup bertanggung jawab dalam menjaga masjid itu.
Feli pun baru pindah ke lingkungan ini sejak satu minggu lalu. Namun, kehadirannya di masjid ini sudah tak asing lagi.
“Eh, Neng Feli, mau salat, ya?” sapa Badir dengan ramah.
“Iya, Mas, saya duluan, ya, mau ngambil wudhu,” balas Feli dengan menganggukkan kepala sembari merapikan pasminanya.
“Iya, Neng, mari….”
Percakapan singkat ini sering terjadi. Semua ini tentu terasa berbeda ketika di kantor.
Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Feli merasa bahwa sapaan Marbot adalah bukti masih ada orang baik yang diciptakan Allah.
Feli melangkah masuk ke pintu masjid untuk berdoa setelah selesai mengambil wudhu.
Memakai mukena, menundukkan kepala saat rukuk di raqaat kedua, dan mulai membacakan niat.
Tiba-tiba…. Brukk!!
Tubuhnya terjatuh, pandangannya gelap karena tertutup mukena. Rasanya beton berat telah menimpa tubuhnya. Napasnya cepat, namun tak panjang.
Tak kuat melawan, semua rontaan hanya berbalas pukulan. Tenaganya habis, tidur terlentang, cahaya mulai terlihat. Matanya terpejam, deras air mata mulai membasahi pipinya.
Tubuhnya bergerak cepat, namun bukan dia yang memegang kendalinya. Dalam kalbu, dia terus berdoa, tak tau mana yang nyata, tetapi satu hal yang pasti, mahkotanya dirampas Marbot. (*)
*Defi Darmawan adalah murid kelas 12 SMA Regina Caeli Bogor, Jawa Barat.
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Defi-Darmawan.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.