Kamis, 14 Mei 2026

Opini

Opini: AI dan Kerumunan

Bagaimana menempatkan AI agar fungsinya bisa dimanfaatkan optimal, pada saat yang sama, dampak negatifnya bisa dimitigasi.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI TRIBUNNEWS.COM
Dahlan Dahi 

AI belajar (learning), kemudian memiliki kemampuan bernalar (reasoning) dan membuat keputusan (make a decision) dari data dan informasi yang bisa diakses secara publik: website, buku (bayangkan tentang buku serius karya Einstein, sastra seperti karya Shakespeare), hasil penelitian, lukisan (misalnya, lukisan Monalisa), video, bahkan laporan keuangan dalam bentuk Excel. 

Yang ingin dikatakan adalah AI tidak hanya mengelola informasi di website berita. Sumber “bacaannya” lebih kaya, lebih luas, lebih dalam dibandingkan dengan Internet Platform yang hanya mengandalkan website.

AI tidak dalam kerumunan seperti Internet Platform. Dia tidak suka crowd, noise, keributan. 

Dia tenang, sistematis, logik, serius, terpola. AI ini seperti seorang profesor di ruang konferensi. 

Kacamatanya tebal, mukanya terlihat tegang, mimik serius, dan kalimat-kalimat demi kalimat yang dia ucapkan berbobot akademis. 

Audiensnya pun “orang yang serius” atau orang yang mengharapkan sesuatu yang “berbobot”.

Dalam ruang konferensi, semua orang boleh bersuara. Tapi tidak semua suara didengar. Hanya yang berbobot. Hanya yang argumentasinya kuat. Hanya yang reputasinya diakui. 

Incentive system AI bukan advertising, setidaknya saat ini. Business model AI adalah subscription. Kiblat dia adalah pelanggan (subscriber), bukan advertiser. 

KPI utama AI adalah menghasilkan informasi yang berbobot, terpercaya –bukan user engagement.

Dua elemen utama –informasi yang berbobot dan tidak suka noise– akan menjadi game changer ekosistem media. 

AI tidak mendorong media (sumber informasi) yang sebanyak-banyaknya agar harga iklan murah: AI mendorong media yang trusty. Dorongan ini akan mengubah landscape media secara signifikan.

AI memilih sumber informasi yang terpercaya karena setidaknya dua alasan. Satu, biaya. 

Makin banyak dan makin lama menjelajah, biaya produksinya akan makin mahal. Kedua, makin banyak mengecek sumber berita atau informasi, makin noise, makin bingung dia memilih mana yang bisa dipercaya.

Perubahan setidaknya mulai terlihat di dua level. Pertama, peran website berita. Jika di era Internet Platform, website berita adalah landing page (karena itu bisnis iklannya tumbuh), maka di era AI, website berita akan menjadi pemasok berita bagi mesin AI. Business model-nya adalah licensing.

Kedua, di area distribusi, AI (persisnya, generative AI berbentuk chatbot seperti ChatGPT, Gemini, atau Copilot) menjadi platform distribusi berita, seperti peran yang saat ini dimainkan Google Search, agregator, dan website berita.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved