Artikel Kesehatan
Kenali Penyakit Kusta Sejak Dini
Pada kebanyakan orang yang terinfeksi dapat asimptomatik atau tidak bergejala, namun pada sebagian kecil memperlihatkan gejala dan mempunyai
Penyakit kusta karena kecacatannya memberi stigma yang sangat besar di masyarakat sehingga pasien kusta menderita tidak hanya karena penyakitnya saja tetapi juga di jauhi atau dikucilkan oleh masyarakat. Cacat tubuh tersebut dapat dicegah apabila diagnosis dan penanganan dilakukan secara dini.
Cara penularan penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain dengan cara penularan langsung. Cara penularan pasti, belum diketahui tetapi sebagaian besar ahli berpendapat bahwa penyakit kusta dapat ditularkan melalui saluran pernafasan dan kulit.
Sumber penularan adalah penderita penyakit kusta yang belum diobati, melalui kontak yang erat dan lama. Tetapi tidak semua orang bisa tertular karena 95 persen manusia di dunia ini mempunyai kekebalan alamiah.
Adapun tanda dan gejala yang sering dijumpai pada penyakit kusta, antara lain terdapat lesi kulit berupa hipopigmentasi (bercak putih), hiperpigmentasi (bercak kecoklatan-kehitaman) atau bercak kemerahan, mati rasa di area kulit tertentu, kulit terlihat kering, kaku dan tidak berkeringat, muncul luka tapi tidak terasa sakit, otot melemah (terutama otot kaki dan tangan) serta dapat terjadi gangguan penglihatan yang dapat berujung kebutaan.
Pengobatan penyakit kusta, umumnya dilakukan dalam kurun waktu enam bulan hingga 1 – 2 tahun tergantung jenis dan keparahannya.
Penyakit kusta bisa sembuh total, asalkan selalu mengingat dua kunci utama dalam pengobatan penyakit ini, yaitu tidak terlambat memeriksakan diri ke dokter dan disiplin saat menjalani pengobatan.
Selain harus minum obat secara teratur, orang dengan penyakit kusta juga harus memperhatikan asupan nutrisinya. Hal ini dilakukan untuk membantu mempercepat penyembuhan kusta.
Komplikasi dari penyakit Kusta yang paling banyak adalah kecacatan. Cacat kusta terjadi karena gangguan saraf pada mata, tangan atau kaki.
Semakin panjang waktu penundaan dari saat pertama ditemukan tanda dini hingga dimulainya pengobatan, maka mungkin besar risiko timbulnya kecacatan akibat terjadinya kerusakan saraf yang progresif.
Dengan alasan inilah maka diagnosis dini dan pengobatan harusnya dapat mencegah terjadinya komplikasi jangka panjang.
Pencegahan cacat kusta jauh lebih baik dan ekonomis daripada penanggulangannya. Pencegahan harus dilakukan sedini mungkin baik oleh petugas kesehatan maupun oleh pasien sendiri dan keluarganya.
Di samping itu perlu mengubah pandangan di masyarakat antara lain bahwa kusta identik dengan deformitas atau kecacatan. (*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
| Tuberkulosis: Penyakit Lama yang Masih Menjadi Ancaman |
|
|---|
| Tanda dan Gejala Kanker Serviks Serta Pentingnya Vaksin HPV dalam Mencegah Kanker Serviks |
|
|---|
| Perbandingan Efektivitas Hyaluronic Acid dan Ceramide dalam Memberikan Kelembaban Kulit |
|
|---|
| Kenali Penyakit Scabies dan Hentikan Penularannya |
|
|---|
| Indonesia Menduduki Peringkat Kedua Dunia: Mengenal Tuberkulosis Bagi Orang Awam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/dr-Okta-Rosaria-Dolu.jpg)