Artikel Kesehatan
Kenali Penyakit Kusta Sejak Dini
Pada kebanyakan orang yang terinfeksi dapat asimptomatik atau tidak bergejala, namun pada sebagian kecil memperlihatkan gejala dan mempunyai
Kenali Penyakit Kusta Sejak Dini
Oleh: dr. Okta Rosaria Dolu
Penyakit kusta atau lepra atau Morbus Hansen adalah penyakit infeksi menahun yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae.
Penyakit ini menyerang terutama pada saraf tepi/perifer, kemudian kulit, dan dapat mengenai organ tubuh lain seperti mata, mukosa saluran napas atas, otot, tulang dan testis.
Pada kebanyakan orang yang terinfeksi dapat asimptomatik atau tidak bergejala, namun pada sebagian kecil memperlihatkan gejala dan mempunyai kecenderungan untuk menjadi cacat.
Kuman Mycobacterium Leprae pertama kali ditemukan oleh G. A. Hansen pada tahun 1873 di Norwegia yaitu kuman tahan asam, berbentuk batang, hidup di dalam sel terutama jaringan yang bersuhu dingin dan tidak dapat di kultur dalam media buatan.
Masa tunas kuman kusta memerlukan waktu yang sangat lama dibandingkan kuman lain yaitu 2-5 tahun.
Data WHO menyebutkan Asia Tenggara menempati peringkat pertama penderita kusta terbanyak di tahun 2015 (ditemukan 156.118 dari 210.758 kasus baru).
Di dunia, pada tahun 2023 Indonesia menduduki peringkat 3 jumlah penderita kusta terbanyak setelah India dan Brazil, dalam jumlah kasus baru kusta, dengan total 12.798 kasus baru.
Beberapa provinsi yang mencatat jumlah kasus kusta tertinggi, yakni Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, dan Papua.
Secara Nasional Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan daerah endemik dengan angka prevalensi 0,72 per 10.000 penduduk tahun 2021.
Namun walaupun demikian angka penemuan kasus baru terus ada dan bertahan pada angka 5 per 100.000 penduduk. Ini menggambarkan bahwa penularan penyakit ini di masyarakat terus berlangsung. Suatu kenyataan bahwa sebagian besar dari penderita kusta adalah dari golongan ekonomi lemah.
Menurut data Dinas Kesehatan Provinsi NTT, pasien kusta di NTT sekitar 400 orang per tahun, pada tahun 2018 terdapat 476 kasus penyakit kusta.
Baca juga: Kenali Penyakit Scabies dan Hentikan Penularannya
Pada tahun 2019 sampai dengan 2021 dilaporkan bahwa kasus kusta mengalami fluktuasi, tahun 2019 sebanyak 362 kasus, pada tahun 2020 sebanyak 292 kasus dan pada tahun 2021 sebanyak 371 kasus dan pada tahun 2022 sebanyak 413 kasus. Tentunya menjadi kewajiban kita bersama untuk menanggulangi masalah kasus kusta ini melalui deteksi dini, pengobatan dan mencegah kecacatan.
Sampai saat ini penyakit kusta masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Masalah kusta diperberat dengan kompleknya epidemiologi dan banyaknya penderita kusta yang mendapat pengobatan ketika sudah dalam keadaan cacat sebagai akibat masih adanya stigma dan kurangnya pemahaman tentang penyakit kusta di masyarakat sebagai akibat keterlambatan pengobatan tersebut akan terjadi penularan yang terus berjalan sehingga kasus baru banyak bermunculan.
Mengingat kondisi tersebut diperlukan adanya sistem pemberantasan secara terpadu dan menyeluruh yang meliputi penemuan penderita sedini mungkin, pengobatan yang tepat, rehabilitasi medis, rehabilitasi sosial serta rehabilitasi karya mantan penderita kusta.
Penyakit kusta karena kecacatannya memberi stigma yang sangat besar di masyarakat sehingga pasien kusta menderita tidak hanya karena penyakitnya saja tetapi juga di jauhi atau dikucilkan oleh masyarakat. Cacat tubuh tersebut dapat dicegah apabila diagnosis dan penanganan dilakukan secara dini.
Cara penularan penyakit kusta dapat ditularkan dari penderita kusta kepada orang lain dengan cara penularan langsung. Cara penularan pasti, belum diketahui tetapi sebagaian besar ahli berpendapat bahwa penyakit kusta dapat ditularkan melalui saluran pernafasan dan kulit.
Sumber penularan adalah penderita penyakit kusta yang belum diobati, melalui kontak yang erat dan lama. Tetapi tidak semua orang bisa tertular karena 95 persen manusia di dunia ini mempunyai kekebalan alamiah.
Adapun tanda dan gejala yang sering dijumpai pada penyakit kusta, antara lain terdapat lesi kulit berupa hipopigmentasi (bercak putih), hiperpigmentasi (bercak kecoklatan-kehitaman) atau bercak kemerahan, mati rasa di area kulit tertentu, kulit terlihat kering, kaku dan tidak berkeringat, muncul luka tapi tidak terasa sakit, otot melemah (terutama otot kaki dan tangan) serta dapat terjadi gangguan penglihatan yang dapat berujung kebutaan.
Pengobatan penyakit kusta, umumnya dilakukan dalam kurun waktu enam bulan hingga 1 – 2 tahun tergantung jenis dan keparahannya.
Penyakit kusta bisa sembuh total, asalkan selalu mengingat dua kunci utama dalam pengobatan penyakit ini, yaitu tidak terlambat memeriksakan diri ke dokter dan disiplin saat menjalani pengobatan.
Selain harus minum obat secara teratur, orang dengan penyakit kusta juga harus memperhatikan asupan nutrisinya. Hal ini dilakukan untuk membantu mempercepat penyembuhan kusta.
Komplikasi dari penyakit Kusta yang paling banyak adalah kecacatan. Cacat kusta terjadi karena gangguan saraf pada mata, tangan atau kaki.
Semakin panjang waktu penundaan dari saat pertama ditemukan tanda dini hingga dimulainya pengobatan, maka mungkin besar risiko timbulnya kecacatan akibat terjadinya kerusakan saraf yang progresif.
Dengan alasan inilah maka diagnosis dini dan pengobatan harusnya dapat mencegah terjadinya komplikasi jangka panjang.
Pencegahan cacat kusta jauh lebih baik dan ekonomis daripada penanggulangannya. Pencegahan harus dilakukan sedini mungkin baik oleh petugas kesehatan maupun oleh pasien sendiri dan keluarganya.
Di samping itu perlu mengubah pandangan di masyarakat antara lain bahwa kusta identik dengan deformitas atau kecacatan. (*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
| Tuberkulosis: Penyakit Lama yang Masih Menjadi Ancaman |
|
|---|
| Tanda dan Gejala Kanker Serviks Serta Pentingnya Vaksin HPV dalam Mencegah Kanker Serviks |
|
|---|
| Perbandingan Efektivitas Hyaluronic Acid dan Ceramide dalam Memberikan Kelembaban Kulit |
|
|---|
| Kenali Penyakit Scabies dan Hentikan Penularannya |
|
|---|
| Indonesia Menduduki Peringkat Kedua Dunia: Mengenal Tuberkulosis Bagi Orang Awam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/dr-Okta-Rosaria-Dolu.jpg)