Opini

Opini: Ironi Nama Waka Nga Mere di Balik Kematian Prada Lucky

Dalam bahasa Nagekeo selatan, waka nga berarti karakter, wibawa, martabat, aura wajah; sementara mere berarti besar. 

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Vitalis Wolo 

Oleh: Vitalis Wolo
Pegiat sosial, tinggal di Naimata, Kota Kupang - Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Nama bukan sekadar deretan huruf. Dalam tradisi banyak masyarakat di Nusa Tenggara Timur ( NTT), nama mengandung makna yang dalam, doa yang hidup, dan cita-cita yang ingin diabadikan. 

Begitu pula dengan Waka Nga Mere, nama yang disandang Batalyon Teritorial Pembangunan (BTP) 834 yang bermarkas di Mbay, Kabupaten Nagekeo

Dalam bahasa Nagekeo selatan, waka nga berarti karakter, wibawa, martabat, aura wajah; sementara mere berarti besar. 

Makna itu, jika dihidupi sepenuhnya, menggambarkan prajurit gagah-perkasa, berwibawa, bermartabat tinggi, dan memiliki jiwa ksatria.

Sayangnya, makna luhur ini kini ternodai oleh peristiwa tragis: meninggalnya Prada Lucky, seorang prajurit muda anggota Yonif 834/BTP “Waka Nga Mere”, yang diduga kuat menjadi korban penganiayaan rekan-rekan dan seniornya sendiri. 

PELUK PETI - Sang ibu Sepriana Paulina Mirpey memeluk peti jenazah anaknya Prada Lucky Namo di rumah duka Asrama TNI, Kelurahan Kuanino, Kota Kupang, sebelum dimakamkan pada Sabtu (9/8/2025).
PELUK PETI - Sang ibu Sepriana Paulina Mirpey memeluk peti jenazah anaknya Prada Lucky Namo di rumah duka Asrama TNI, Kelurahan Kuanino, Kota Kupang, sebelum dimakamkan pada Sabtu (9/8/2025). (POS-KUPANG.COM/RAY REBON)

Dari keterangan medis dan pengakuan terakhirnya kepada seorang dokter di RSUD Aeramo, Nagekeo, sebelum meninggal, terungkap bahwa luka-luka di tubuhnya bukan akibat kecelakaan, melainkan kekerasan yang disengaja.

Peristiwa ini tidak hanya memukul hati keluarga dan masyarakat Nagekeo, tetapi juga menggores citra TNI di daerah. 

Nama besar Waka Nga Mere seakan berubah menjadi ironi: di balik simbol wibawa dan martabat, terselip tindakan brutal yang mengingkari semua itu.

Nama sebagai Kompas Moral

Nama satuan militer bukan hanya penanda administratif; ia adalah kompas moral yang mengarahkan perilaku anggotanya. 

Ketika sebuah batalyon menyandang nama dengan makna luhur, seluruh personelnya terikat pada standar etika dan profesionalisme yang tinggi. 

Publik mengharapkan perilaku yang konsisten dengan makna tersebut: disiplin, hormat terhadap sesama, dan perlindungan bagi rakyat.

Dalam hal Waka Nga Mere, makna wibawa dan martabat seharusnya menghalangi setiap tindakan yang merendahkan sesama prajurit. 

Kekerasan internal—apalagi yang berujung pada kematian—merupakan bentuk pengkhianatan ganda: pengkhianatan terhadap korban yang adalah rekan seperjuangan, dan pengkhianatan terhadap nilai yang dikandung nama itu sendiri.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved