Breaking News

Rote Ndao Terkini

KKP Ajak Swasta Garap Proyek Garam Nasional di Rote Ndao NTT

Proyek ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor garam.

Penulis: Mario Giovani Teti | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/MARIO TETI
K-SIGN - Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono dan Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk usai kick-off pembangunan K-SIGN di Desa Matasio, Rote Timur pada Selasa, 3 Juni 2025 lalu. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Mario Giovani Teti

POS-KUPANG.COM, BA'A - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengajak sektor swasta untuk berpartisipasi dalam proyek swasembada garam nasional melalui pengembangan Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN) di Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Proyek ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor garam.

Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk membenarkan hal tersebut. Ia mengatakan proyek K-SIGN ditargetkan mampu memproduksi hingga 2 juta ton garam per tahun dari total lahan seluas 10.000 hektar. 

Jika dilakukan perluasan hingga 13.000 hektar, kata dia, kapasitas produksi bisa meningkat menjadi 2,6 juta ton per tahun.

Baca juga: Rote Ndao Bersiap Jadi Sentra Garam Nasional, PLN Siap Hadirkan Listrik Andal


"Sudah ada pihak swasta yang berminat untuk ikut bergabung. Mudah-mudahan nanti bisa berjalan bersama dan ke depannya semakin banyak yang tertarik," ungkap Paulus, Senin (4/8/2025).

Saat ini, lanjut dia, KKP tengah membangun lahan ekstensifikasi seluas 2.000 hektar sebagai proyek percontohan (modeling) di Zona 1 dengan target produksi awal sebesar 400 ribu ton garam per tahun. 

Sisa lahan lainnya akan ditawarkan kepada pihak swasta untuk dikembangkan lebih lanjut.

"Nanti setelah modeling selesai, kita akan tahu standar produksi seperti apa yang diterapkan di sana. Itu akan menjadi daya tarik tambahan bagi investor," pungkas Paulus.

Pengembangan proyek K-SIGN akan dilakukan secara bertahap melalui 10 zona berdasarkan karakteristik topografi dan morfologi wilayah. 

Tahap pertama seluas 1.193 hektar dimulai pada 2025 dengan anggaran Rp 749,91 miliar. 

Tahap kedua seluas 9.541 hektare dijadwalkan berlangsung pada 2026 dengan anggaran Rp 853,11 miliar, sedangkan tahap ketiga seluas 3.135 hektar akan dimulai pada 2027. 

Total anggaran untuk proyek ini diperkirakan mencapai Rp 2 triliun di luar pagu anggaran KKP. (rio)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS    

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved