Opini
Opini: Elaborasi Pendidikan Bermakna, Mengembalikan Jiwa dalam Ruang Kelas
Pembelajaran akan lebih bermakna ketika informasi baru dikaitkan secara substantif dengan struktur kognitif yang telah dimiliki peserta didik.
Padahal, meaningful learning menuntut keterhubungan dengan konteks konkret siswa (McLellan & Dewey, 2022). Tanpa ini siswa merasa asing di ruang belajarnya sendiri.
Menuju Pendidikan yang Bermakna dan Kontekstual
Pendidikan yang bermakna harus mengubah ruang kelas dari tempat pengajaran menjadi ruang perjumpaan: antara guru dan siswa, antara ilmu dan kehidupan, antara nilai dan praksis.
1. Kontekstualisasi Materi Ajar
Guru harus mampu memfasilitasi pembelajaran yang berakar pada realitas sosial dan budaya lokal.
Ini selaras dengan pendekatan place-based education yang ditekankan oleh Gruenewald & Smith (2020), yaitu mengaitkan pembelajaran dengan komunitas dan lingkungan sekitar siswa agar lebih relevan dan bermakna.
2. Proyek Sosial dan Inkuiri Reflektif
Pendekatan seperti project-based learning dan service learning memungkinkan siswa mengintegrasikan pengetahuan dengan tindakan sosial.
Ini sejalan dengan prinsip Thomas & Brown (2020) bahwa belajar tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berlanjut dalam interaksi dan kontribusi sosial.
3. Refleksi sebagai Strategi Inti
Membiasakan siswa untuk menulis jurnal, berdiskusi secara terbuka, dan mengevaluasi proses belajar akan menumbuhkan kesadaran diri dan kedalaman berpikir.
Ini sesuai dengan gagasan Mezirow (2009) tentang transformative learning yakni pembelajaran yang mengubah cara pandang melalui refleksi kritis.
Peran Guru: Mengajar dengan Kebermaknaan
Guru adalah aktor utama dalam membangun pendidikan bermakna. Namun, guru tidak bisa bekerja sendiri.
Diperlukan ekosistem sekolah yang mendukung, budaya kolaboratif, serta pengakuan terhadap kompleksitas peran guru.
Heryon Bernard Mbuik
Universitas Citra Bangsa
Opini Pos Kupang
John Dewey
pendidikan bermakna
guru dan murid
Nusa Tenggara Timur
Opini: Prada Lucky dan Tentang Degenerasi Moral Kolektif |
![]() |
---|
Opini: Drama BBM Sabu Raijua, Antrean Panjang Solusi Pendek |
![]() |
---|
Opini: Kala Hoaks Menodai Taman Eden, Antara Bahasa dan Pikiran |
![]() |
---|
Opini: Korupsi K3, Nyawa Pekerja Jadi Taruhan |
![]() |
---|
Opini: FAFO Parenting, Apakah Anak Dibiarkan Merasakan Akibatnya Sendiri? |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.