Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Jumat 1 Agustus 2025, "Yesus Kembali ke Tempat Asal-Nya"

Perayaan-perayaan ini adalah waktu untuk mengingat karya penyelamatan Allah dan untuk mempersembahkan korban syukur kepada-Nya.

Editor: Eflin Rote
DOK PRIBADI
Br. Pio Hayon, SVD. 

Renungan Harian Bruder Pio Hayon SVD
Hari Jumat Pekan Biasa XVII
Jumat, 1 Agustus  2025.  
PW Sto. Alfonsus Marie de Ligouri
Bacaan I: Im 23:1.4-11.15-16.27.34b-37
Injil:  Mat. 13:54-58
“Yesus Kembali ke Tempat Asal-Nya"

Saudari/a terkasih dalam Kristus

Salam sejahtera untuk kita semua. Pada hari ini, kita memperingati Santo Alfonsus Maria de Liguori, seorang uskup, teolog moral, dan pendiri Kongregasi Sang Penebus Mahakudus (Redemptoris).

Tema "Yesus kembali ke tempat asal-Nya" mengajak kita untuk merenungkan tentang bagaimana kita merespons kehadiran Yesus dalam kehidupan kita, serta bagaimana kita dapat menghormati dan menghayati tradisi dan akar iman kita, seperti yang diteladankan oleh Santo Alfonsus.

Saudari/a terkasih dalam Kristus

Permenungan kita dari bacaan kitab Imamat 23:1, 4-11, 15-16, 27, 34b-37, kita membaca tentang berbagai perayaan agama yang diperintahkan oleh Tuhan kepada bangsa Israel, seperti hari Sabat, Paskah, Pentakosta, dan Hari Raya Pondok Daun.

Perayaan-perayaan ini adalah waktu untuk mengingat karya penyelamatan Allah dan untuk mempersembahkan korban syukur kepada-Nya. Ini menunjukkan pentingnya menghormati tradisi dan ritus agama sebagai cara untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Sedangkan dari bacaan Injil Matius 13:54-58, Yesus kembali ke kampung halaman-Nya, Nazaret, dan mengajar di rumah ibadat mereka.

Orang-orang takjub akan pengajaran-Nya dan bertanya-tanya dari mana Ia memperoleh hikmat dan kuasa untuk melakukan mukjizat. Namun, mereka juga meragukan-Nya karena mereka mengenal keluarga-Nya dan latar belakang-Nya yang sederhana.

Mereka berkata, "Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara perempuan-Nya semuanya ada bersama kita?

Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?" Karena ketidakpercayaan mereka, Yesus tidak melakukan banyak mukjizat di sana. Kisah ini menunjukkan bahwa meskipun kita mengenal seseorang dengan baik, kita mungkin masih gagal untuk melihat kebenaran tentang dirinya.

Orang-orang Nazaret terlalu fokus pada latar belakang Yesus sehingga mereka tidak dapat menerima-Nya sebagai Mesias. Ketidakpercayaan mereka menghalangi mereka untuk menerima berkat dan mukjizat yang ditawarkan oleh Yesus.

Santo Alfonsus Maria de Liguori adalah contoh nyata dari seseorang yang menghormati tradisi dan akar imannya, tetapi juga terbuka terhadap hal-hal baru yang diilhamkan oleh Roh Kudus. Ia menggunakan karunia intelektualnya untuk mempelajari teologi dan hukum kanon, serta melayani Gereja dengan setia. Ia juga mendirikan Kongregasi Sang Penebus Mahakudus untuk melayani orang-orang miskin dan terlantar, menunjukkan kasih dan belas kasihan Kristus kepada mereka yang membutuhkan.

Refleksi atas permenungan kita mulai dari Tradisi dan Iman: Bagaimana kita menghormati tradisi dan akar iman kita?

Apakah kita memahami makna di balik ritus dan perayaan agama yang kita lakukan? Keterbukaan Hati: Apakah kita terbuka untuk menerima kebenaran, meskipun itu datang dari sumber yang tidak terduga? Apakah kita membiarkan prasangka dan stereotip menghalangi kita untuk melihat kebaikan dalam diri orang lain?

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved