Minggu, 3 Mei 2026

Opini

Opini: Tangisan di Gerbang Sekolah

Sebuah video yang viral di media sosial menunjukkan seorang ibu yang menangis haru setelah anaknya masuk sekolah dengan semangat. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Prima Trisna Aji 

Oleh : Prima Trisna Aji
Dosen Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang

POS-KUPANG.COM - Momen hari pertama masuk sekolah merupakan kenangan yang akan selalu membekas dalam ingatan baik orang tua maupun anak. 

Di tengah keriuhan suara bel sekolah, derap kecil anak–anak lucu imut dan senyum gugup para guru sekolah terselip air mata para orang tua yang melepas separuh hatinya di gerbang sekolah. 

Tak jarang tangisan air matapun jatuh bukan karena perpisahan sejenak, melainkan karena kesadaran bahwa ternyata anak mereka sedang memasuki fase kehidupan baru yang tidak sepenuhnya tak bisa terus dikawal oleh para orang tua.

Sebuah video yang viral di media sosial menunjukkan seorang ibu yang menangis haru setelah anaknya masuk sekolah dengan semangat. 

Di satu sisi, anak Bahagia karena telah tumbuh menjadi sosok yang dewasa, namun pada sisi yang lainnya muncul kehawatiran bagaimana kalau anaknya ketika sekolah tidak ditunggui jatuh sakit? 

Bagaimana jika anaknya rewel tantrum dan belum bisa menyesuaikan diri di hari pertama sekolah? 

Momen kenangan seperti menggambarkan bahwa pada hari pertama masuk sekolah bukan hanya milik si anak melainkan juga merupakan momen emosional yang ada pada orang tua yang mengantarnya.

Sayangnya ada hal yang lebih penting di balik kisah haru tersebut, hal penting yang sering terlewatkan adalah tentang “kesehatan”.

Kesehatan: Sisi yang Sering Terlupakan

Pada tahun ajaran baru sering kali bersamaan dengan musim penghujan di Indonesia,  saat risiko penyakit menular meningkat begitu tajam seperti flu, diare, demam berdarah hingga penyakit akibat kencing tikus yaitu Leptospirosis yang viral di Yogyakarta mengintai di lingkungan sekolah. 

Hal lain juga perlu diperhatikan seperti persoalan sanitasi, minimnya fasilitas cuci tangan dan rutinitas bangun pagi pada anak dengan beban belajar.

Kesehatan fisik bukanlah satu– satunya yang patut untuk dicemaskan, akan tetapi hal lainnya yang jauh juga lebih penting adalah pada aspek mental dan emosional pada anak yang kadang justru diabaikan. 

Penelitian terbaru dari Verywell Mind pada tahun 2025 menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen orang tua mengkwatirkan kondisi mental anak mereka saat kembali ke sekolah. 

Anak yang sebelumnya lebih banyak berada di rumah selama liburan panjang, kini harus berinteraksi di lingkungan yang baru, menyesuaikan diri dengan guru dan teman serta menghadapi tekanan akademik. Ditambah dengan suasana kelas yang baru karena telah naik kelas.

Masalah kesehatan seperti gangguan tidur, perubahan perilaku dan penurunan nafsu makan merupakan sinyal adaptasi yang tidak boleh diabaikan. 

Penelitian terbaru dari American Psychological Association tahun 2025 menunjukkan pentingnya ritme tidur yang sehat bagi anak. 

Jam masuk sekolah yang terlalu pagi tanpa mempertimbangkan kebutuhan biologis justru akan berisiko menurunkan konsentrasi, emosi dan daya tahan tubuh si anak.

Kisah Ibu Elinda Rizkasari: Antara Haru dan Kekhawatiran

Elinda Rizkasari, seorang ibu dari Jumapolo Karanganyar yang menceritakan kisah hari pertamanya anaknya masuk sekolah Taman Kanak – kanak di TK MTA Jumapolo Karanganyar Jawa Tengah. 

Ia mengatakan anaknya Zehan sangat bersemangat mengenakan seragam TK dan membawa bekal makanan untuk dimakan disekolahan. 

Namun yang justru yang terjadi dirinya malah menangis sesenggukan setelah berpamitan. 

Ada rasa bangga yang luar biasa, tetapi juga terkadang muncul ketakutan apakah anaknya baik–baik saja, apakah ia akan mudah berteman dengan kelas yang baru dan apakah ia akan sehat?

Elinda mengaku mulai mempersiapkan anaknya dua minggu sebelum masuk sekolah dari mempersiapkan pola tidur, kebiasaan sarapan hingga latihan mengenakan sepatu sendiri.

Meskipunn begitu, tetap saja sebagai seorang ibu terkadang merasa tidak pernah cukup siap untuk melepas anak pada hari pertama masuk sekolah. 

Cerita Elinda bukanlah satu–satunya, sebenarnya banyak orang tua yang juga mengalami kecemasan yang serupa dan itu merupakan hal yang manusiawi. 

Namun dari rasa kecemasan itulah lahir kesadaran untuk memastikan bahwa Sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang yang sehat dan aman untuk tumbuh kembang pada anak.

Apa yang Bisa Kita Perbaiki?

Kini sudah saatnya kita mulai meninjau ulang bagaimana sistem pendidikan kita, terutama pada jenjang kanak–kanak dan sekolah dasar, merencanakan hari pertama anak–anak dis ekolah sangatlah penting bagi tumbuh kembang anak.

Banyak sekolah yang memulai pelajaran pada pukul 07.00 pagi, dimana sejumlah riset menunjukkan bahwa waktu yang lebih siang  cocok untuk menjaga kualitas tidur dan kesiapan fisik pada anak.

Hal lain yang tak kalah penting adalah kondisi sanitasi juga masih menjaid tantangan tersendiri, karena tidak semua sekolah menyediakan fasilitas cuci tangan, sabun dan air bersih yang memadai. Belum lagi ditambah persoalan kesehatan mental yang masih dianggap tabu. 

Padahal anak–anak di hari pertama masuk sekolah sangat membutuhkan dukungan emosional dari orang tua. 

Guru bukan hanya bertugas menyampaikan pelajaran, akan tetapi juga harus menjadi pembaca ekspresi, pelindung emosional yang baik dan penghubung komunikasi dengan orang tua atau wali.

Akan karena itu, dibutuhkan kolaborasi antara orang tua, sekolah dan pemerintah. 

Sekolah juga perlu menyediakan protocol kesehatan yang baik dan mudah dipahami oleh anak– anak. 

Pemerintah daerah juga perlu meninjau ulang kebijakan jam masuk sekolah dan mendorong adanya tenaga psikolog dan konselor pada tingkat taman kanak–kanak dan sekolah dasar. 

Di sisi lain orang tua juga perlu diberdayakan melalui edukasi kesehatan anak, bukan hanya soal masalah gizi pada anak saja, akan tetapi juga tentang kesehatan mental dan emosional.

Penutup: Tangisan yang Punya Makna

Kisah haru tangisan yang terjadi digerbang sekolah sebenarnya menyimpan banyak makna yang tersembunyi. 

Ia bukan hanya tanda kelemahan, akan tetapi refleksi cinta dan harapan dari orang tua kepada anak tercinta mereka. 

Hari pertama anak masuk sekolah merupakan gerbang menuju dunia baru dan tugas kita adalah memastikan bahwa dunia ini sangat ramah, sehat dan aman bagi anak. 

Kesehatan pada anak bukanlah sebagai pelengkap saja, akan tetapi juga sebagai fondasi dari proses belajar yang bermakna dan bermanfaat. 

Jika kita bisa menghadirkan sistem dan lingkungan yang juga memperhatikan kesehatan anak sejak hari pertama sekolah, maka kita telah memberikan mereka awal yang sangat kuat untuk perjalanan panjang mereka ke depan. 

Dan mungkin di saat kita kembali melihat mereka melangkah ke gerbang sekolah pada esok hari, tangisan itu akan berubah menjadi senyuman karena kita tahu bahwa mereka telah tumbuh di tempat dan waktu yang tepat. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved