Jumat, 5 Juni 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Kamis 10 Juli 2025, "Menerima dengan Cuma-cuma"

Yesus memerintahkan murid-muridnya untuk memberikan pengajaran dan pelayanan secara cuma-cuma, seperti yang mereka terima.

Tayang:
Editor: Eflin Rote
Dok. POS-KUPANG.COM
RP. John Lewar SVD menyampaikan Renungan Harian Katolik 

Renungan Harian Katolik Suara Pagi
Bersama Pastor John Lewar SVD
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor – NTT
Kamis, 10 Juli 2025
Hari Biasa Pekan XIV
Kej. 44:18-21,23b-29; 45:1-5; Mzm. 105:16-17,18-19,20-21;
Mat. 10:7-15
Warna Liturgi Hijau

Menerima dengan Cuma-cuma

“Cuma-cuma” adalah sebuah kata yang sering kita dengar. Artinya, orang tidak perlu membayar atau tidak dikenakan (dipungut) biaya. Bahasa kerennya gratis. Contoh, mulai tahun ini beberapa Sekolah Dasar dan
menengah di Tanah Air, tidak dipungut biaya, sekolah gratis.

Pemerintah daerah akan membiayai sekolah mereka. Salah satu di antaranya yakni Gubernur Maluku Utara. Menerima dengan cuma-cuma" dalam konteks keagamaan, khususnya merujuk pada konsep pemberian kasih karunia atau anugerah dari Tuhan yang tidak perlu dibayar atau didapatkan melalui usaha manusia sendiri.

Yesus memerintahkan murid-muridnya untuk memberikan pengajaran dan pelayanan secara cuma-cuma, seperti yang mereka terima.

Ketika mengutus para murid, Yesus berpesan: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat 10:8b), sabda Yesus.

Para murid diutus untuk mewartakan kabar gembira dan kerajaan Allah sudah dekat. Murid-murid yang dipilih oleh Yesus tanpa jasa dari pihak mereka. Mereka tidak dipungut biaya pendaftaran.

Dengan cuma-cuma mereka menerima kuasa untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan (Mat 10:1); juga kuasa untuk menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, menahirkan orang kusta dan mengusir setan (ay. 7-8a).

Dengan cuma-cuma mereka menerima Kabar Baik tentang Kerajaan Surga. Dengan cuma-cuma mereka yang mengikuti Yesus menjadi anggota-anggota Kerajaan itu.

Apa pun mereka terima dengan cuma-cuma. Perihal menerima dengan cuma-cuma ini, kita ingat akan kata-kata Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus demikian, “Apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?

Dan jika memang engkau menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?” (1Kor 4:7).

Memegahkan diri seolah-olah yang ada padanya adalah karena jasa sendiri, karena jerih keringatnya sendiri dan tidak melihat bahwa di balik semua itu adalah karena rahmat yang dari Allah? Tidak ada satu alasan pun bagi manusia untuk memegahkan diri di hadapan Allah.

“Segala sesuatu adalah rahmat,” kata Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus dan Wajah Kudus. Pengakuan seperti ini, yang membuat orang bersikap rendah hati kepada Allah dan dalam semangat kerendahan hati itu, yang meluap dari hatinya adalah pujian dan syukur kepada Allah.

Oleh sebab itu, apa yang para murid terima dengan cuma-cuma, hendaknya mereka berikan juga dengan cuma-cuma. Dalam memberikan yang baik, hendaknya dilandasi oleh kasih, bukan dilandasi oleh jiwa pedagang atau pengusaha yang selalu memperhitungkan untung-rugi.

Bahkan, jika harus memberi, mereka harus siap rugi agar orang lain beruntung dan bahagia. Misalnya, untuk kebutuhan konsumsi anak-anak yang mengadakan rekreasi, ternyata sumbangan dari para peserta tidak mencukupi, sehingga panitia harus mengeluarkan biaya dari kantong mereka sendiri. Ini panitia sekaligus pelayan sejati, yang siap rugi, siap tekor.

Hidup kita ini selalu diperkaya oleh Allah. Kita menerima segalanya dari Allah yang Maha Murah. Semua kita terima dengan cuma-cuma.

Seperti diingatkan oleh Santa Teresia Benedikta dari Salib, seorang kudus Jerman yang juga disebut Santa Edith Stein, “Esensi terdalam dari kasih adalah memberi.” Tentu saja, memberi dengan cuma-cuma, memberi tanpa pamrih.

Dalam melaksanakan karya perutusan kita, mari kita memberi dari apa yang kita terima dari Allah dengan cuma-cuma. Kita melakukannya selagi kita sehat, kuat dan punya semangat.

Kita melakukannya selagi kita bisa, seperti dikatakan oleh Santa Birgitta dari Swedia, “Kita harus memberi selagi kita bisa memberi, karena kita juga punya Seorang Pemberi yang murah hati,” yakni “Allah yang kaya dengan rahmat” (Ef 2:4). "Menerima dengan cuma-cuma" menekankan pemberian gratis dari Tuhan, sementara juga mendorong umat-Nya untuk memberi secara cuma-cuma

sebagai ungkapan syukur dan kasih. Kita telah menerima dengan cuma-cuma, maka berikanlah dengan cuma-cuma pula.

Doa:

Tuhan Yesus, Engkau mengikutsertakan aku untuk mewartakan Kerajaan Allah di dunia. Utuslah Roh Kudus untuk menerangi jalan hidupku agar tugas perutusan yang dipercayakan kepadaku dapat terlaksana dengan baik dan membawa banyak orang untuk datang kepadaMu. ..Amin.

Sahabatku yang terkasih. Selamat Hari Kamis Pekan Biasa XIV. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Bapa dan Putera dan Roh Kudus...Amin. (Pastor John Lewar SVD)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved