Wina Armada Berpulang
In Memoriam Wina Armada: Hoax dan Kematian Kebenaran
Tiga hari sebelum ia wafat, saya mengirim pesan resmi ke enam WAG Satupena, mengajak semua mendoakan kesembuhannya.
Oleh: Denny JA
Kolega Wina Armada Sukardi
POS-KUPANG.COM - “Hoax bukan sekadar kebohongan. Ia perusak tatanan sosial. Ia memicu kebencian, fitnah, dan perpecahan. Dan yang lebih berbahaya, ia menyamar sebagai kebenaran.”
Kutipan itu terngiang kuat saat saya menerima kabar wafatnya Wina Armada, Kamis sore, 3 Juli 2025.
Ia bukan sekadar kolega di Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena, tapi jurnalis, ahli hukum, sekaligus sahabat sejati—teguh dalam prinsip, lembut dalam pergaulan.
Berulang kali Wina menyerukan: sanksi atas penyebaran hoax tak boleh lunak. Harus tegas. Harus berat.
Sebab yang dipertaruhkan bukan hanya kredibilitas pers, tapi kelangsungan akal sehat publik.
***
Tiga hari sebelum ia wafat, saya mengirim pesan resmi ke enam WAG Satupena, mengajak semua mendoakan kesembuhannya.
Bagi yang Muslim, dengan Al-Fatihah. Bagi yang non-Muslim, dengan doa menurut keyakinannya.
Putrinya mengirimkan ucapan terima kasih kepada saya melalui japri WA, atas bunga yang saya kirim mewakili teman-teman.
Saya sempat meneleponnya. “Apakah Wina sudah bisa ditengok?” Ia menjawab lembut, “Belum, Om. Kata dokter, belum boleh.”
Saya melanjutkan, “Apakah beliau sudah sadar?” Ia menjawab pelan, “Masih belum sadar, Om.”
Kepada Ilham Bintang, saya bertanya lewat pesan teks, “Bro, seberapa parah serangan jantung Wina? Sudah sepuluh hari belum juga boleh dijenguk?” Jawabnya pendek, tapi menusuk, “Agaknya parah.”
Dua hari kemudian, berita duka itu datang. Sunyi. Wina wafat.
***
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.