Cerpen
Cerpen: Menghapus Jejak
Ibu meletakkan sulamannya, matanya menatap jauh. "Sudah lama, Nak. Tapi luka itu tak pernah kering.
Oleh: Sr. Herlina Hadia, SSpS *
POS-KUPANG.COM - Aku melewati perkampungan tua yang masih dihuni oleh beberapa keluarga. Tiba-tiba aku melihat segerombolan orang tua sedang duduk di persimpangan jalan.
Saya mencoba mendekati mereka dan mendengar apa yang sedang mereka perbincangkan.
Dari mulut seorang ibu setengah baya aku mendengar keluh yang dalam: "mereka mencoba menghapus jejak kebobrokan masa lalu. Bagi kisah kejam mereka itu hanya merupakan cerita tanpa fakta.
Tangisan dan perjuangan kaum lemah yang masih berjuang sampai saat ini, hanyalah sebuah lelucon bagi mereka."
Sejenak aku teringat berita di media masa, ketika mereka yang sedang berkuasa mencoba menulis kembali sejarah dengan versi yang mereka inginkan.
Dan berita lain yang masih jelas diingatanku adalah ketika salah satu orang ternama di negeriku berkomentar bahwa kisah kelam Mei 1998 hanyalah sebuah rumor. Apakah memang demikian?
Aku terus melangkah, membiarkan bayangan pikiran itu menari-nari di kepalaku. Tak lama, langkahku sampai di sebuah rumah tua yang tak asing, rumah orang tuaku.
Pintu kayu berderit pelan saat aku mengetuk dan membuka. Aroma kayu tua dan masakan dapur menyambutku, membawa kenangan akan masa kecil yang hangat dan sederhana.
Ibu sedang duduk di kursi rotan, menyulam sesuatu yang tak sempat selesai. Bapak, seperti biasa, menatap koran yang lebih sering diamkan daripada dibaca.
Menatap mereka menyambutku dengan lembut, meski aku tahu mereka membawa beban yang sama dengan mereka yang duduk di persimpangan tadi.
“Aku mendengar cerita di ujung jalan,” kataku sambil duduk di lantai dekat kaki ibu.
“Mereka berbicara tentang luka yang tak pernah diobati. Tentang kebenaran yang sedang dikubur hidup-hidup.”
Ibu meletakkan sulamannya, matanya menatap jauh. "Sudah lama, Nak. Tapi luka itu tak pernah kering.
Setiap kali orang bilang semua itu hanya cerita, rasanya seperti menampar kembali wajah mereka yang dulu berteriak minta tolong."
