Breaking News
Selasa, 14 April 2026

Opini

Opini: Tolong, Kembalikan Kemanusiaan Kita!

Bagi Byung-Chul Han, narasi transhumanis sengaja mengabaikan apa yang ia anggap sebagai hakikat sejati kemanusiaan.

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Melki Deni, S. Fil 

Oleh: Melki Deni, S. Fil
Sedang Studi Teologi di Universidad Pontificia Comillas, Madrid, Spanyol

POS-KUPANG.COM - Byung-Chul Han, filsuf Korea Selatan, akhir-akhir ini telah menjadi salah satu kritikus paling tajam terhadap budaya digital kontemporer dan cabang-cabang filosofisnya seperti transhumanisme dan posthumanisme. 

Tidak seperti para penggemar teknologi, Byung-Chul Han yang hidup secara terbalik dari yang dijalani masyarakat dunia pada umumnya, memandang dengan skeptis janji-janji transendensi dan peningkatan manusia yang ditawarkan oleh arus globalisasi tekonolgi ini. 

Bagi sang filsuf, narasi-narasi ini tidak mewakili pembebasan sejati manusia, tetapi digunakan sebagai jalan licin menuju perluasan logika neoliberal yang bahkan mengubah tubuh dan pikiran kita menjadi bidang-bidang baru pengoptimalan dan eksploitasi.

Dalam karya-karyanya seperti La sociedad del cansancio dan Psicopolítica. Neoliberalismo y nuevas técnicas de poder, Byung-Chul Han mengungkap bagaimana transhumanisme, dengan keinginannya untuk mengatasi keterbatasan biologis, secara tidak sengaja mereproduksi struktur eksploitasi diri yang sama yang menjadi ciri kapitalisme akhir. 

Byung-Chul Han mengatakan bahwa “Transhumanisme berjanji untuk membebaskan kita dari kendala biologis, tetapi mengikat kita pada bentuk-bentuk disiplin dan pengoptimalan baru”. 

Subjek transhumanis, jauh dari emansipasi, yang merupakan proyek individu yang tak pernah selesai, dipaksa untuk terus-menerus memperbaiki dirinya dalam proses tanpa akhir yang mencerminkan logika kinerja neoliberal global.

Bagi Byung-Chul Han, narasi transhumanis sengaja mengabaikan apa yang ia anggap sebagai hakikat sejati kemanusiaan: kerentanan, keterbatasan, dan kenegatifan.

Dengan berupaya membasmi karakteristik ini, transhumanisme menghilangkan hal apa yang membuat kita menjadi manusia. “Kenegatifan”, demikian Byung-Chul Han, “apa yang membuat kita berbeda, apa yang memungkinkan kita untuk mengatakan ‘tidak’, adalah apa yang transhumanisme ingin hilangkan demi kepositifan yang absolut dan transparan”. 

Kepositifan yang dipaksakan ini, tidak mengarah pada kebebasan tetapi pada bentuk kontrol yang baru, lebih halus dan merusak.

Posthumanisme, dalam bentuknya yang paling radikal, berfantasi tentang keberadaan tanpa tubuh, yang ditransfer ke sistem digital atau hibrida. 

Byung-Chul Han memperingatkan bahwa visi ini merupakan puncak dari apa yang disebutnya “masyarakat transparansi”. 

Ia menegaskan, “Digitalisasi keberadaan menghilangkan kegelapan yang diperlukan untuk keberadaan hal-hal yang lain dan misteri”. 

Bagi filsuf dari Korea Selatan ini, proses ini sama sekali tidak mewakili evolusi, tetapi lebih merupakan reduksi manusia menjadi informasi yang dapat dimanipulasi, diukur, dan karenanya dapat dikendalikan. Dan hal ini kita dapat temukan dalam bentuk yang paling aktual, misalnya, Kecerdasan Buatan, yang diprogramkan.

Dalam kritiknya, Byung-Chul Han menunjukkan bahwa baik transhumanisme maupun posthumanisme memiliki pandangan yang bermasalah tentang temporalitas manusia. 

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved