Opini

Opini: Prius Opere Deinde Verbo

Sejak edisi Juni 2012 sampai Desember 2016, Santarang dicetak di Percetakan Lima Bintang, Lasiana, rata-rata dengan format tetap 52 halaman. 

|
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/DION DB PUTRA
13 TAHUN SANTARANG - Dari kiri ke kanan, Pemimpin Redaksi Jurnal Sastra Santarang Mario F. Lawi, Jelia Belo (moderator) dan Romo Amanche Franck Oe Ninu (Koordinator Umum Komunitas Sastra Dusun Flobamora) saat diskusi dan refleksi 13 Tahun Santarang di SMPK St. Yoseph Kupang, Sabtu (24/5/2025) malam. 

Oleh: Mario F. Lawi
Komunitas Sastra Dusun Flobamora Kupang - Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM- Jika ada kalimat yang bisa menggambarkan perjalanan awal Jurnal Sastra Santarang yang pada Mei tahun ini berusia 13 tahun, itu adalah pepatah Latin “Prius opere deinde verbo”. Kerja dulu, baru berkata-kata. Jalani dulu, baru bicara. 

Pepatah itu pertama kali saya dengar dari guru bahasa Latin saya, mendiang Pater Willem Laga Udjan, SVD, tetapi semangatnya dihidupi oleh Amanche Franck Oe Ninu, Koordinator Umum Komunitas Sastra Dusun Flobamora

Untuk berbagi sepenggal kisah Santarang, saya pasti mesti menoleh ke belakang, ke kisah-kisah awal ketika jurnal tersebut direncanakan dan diterbitkan.

JURNAL SASTRA SANTARANG  -  Edisi lengkap  Jurnal Sastra Santarang yang diterbitkan Dusun Sastra Flobamora Kupang sejak 13 tahun silam.
JURNAL SASTRA SANTARANG - Edisi lengkap Jurnal Sastra Santarang yang diterbitkan Dusun Sastra Flobamora Kupang sejak 13 tahun silam. (POS-KUPANG.COM/HO-MARIO F. LAWI)

Pada 17 Maret 2012, sekitar pukul tujuh malam, sebulan setelah ulang tahun pertama Dusun Flobamora, sejumlah anggota komunitas berkumpul di Taman Nostalgia, Kota Kupang. 

Ada Amanche Franck, Koordinator Umum Komunitas, serta Abdul M. Djou, Januario Gonzaga, Dicky Senda, Djho Izmail, Merlinda Heka dan saya.  

Januario Gonzaga, imam Keuskupan Agung Kupang yang sekarang sedang studi Hukum Gereja di Roma, pada waktu itu masih berstatus frater yang menjalani masa orientasi pastoral di Paroki Santa Maria Assumpta Kotabaru. 

Dicky baru saja kembali dari studinya di Yogyakarta. Merlinda Heka merupakan salah satu siswi dari Amanche Franck di SMA Katolik Giovanni Kupang. 

Pada malam itu, Romo Amanche mengusulkan agar komunitas menerbitkan jurnal sastra sendiri, sebagai media belajar internal para penulisnya. 

Maklum, meskipun sebelumnya anggota komunitas sering mengirim ke media-media massa cetak, keterbatasan halaman yang bisa dimuat di rubrik-rubrik sastra koran menjadi salah satu alasan karya-karya yang lebih panjang dan potensial tidak bisa dimuat dengan alasan teknis. 

Jurnal sastra itu pun dinamai “Santarang” oleh Romo Amanche, sebagai akronim dari sabana, lontar, dan karang. Romo Amanche tentu saja sudah punya pengalaman sebelumnya dalam mengasuh dan membesarkan media internal komunitas. 

Ketika menjalani masa orientasi pastoral di Seminari Menengah St. Rafael, Romo Amanche bersama Romo Yonas Kamlasi mengembangkan buletin Fontes yang dikelola para seminaris hingga beroplah 2.000 eksemplar. 

Ketika menyelesaikan masa orientasi dan kembali ke Seminari Tinggi St. Mikhael, Romo Amanche juga berperan dalam melahirkan Jurnal Sastra Filokalia yang dikelola oleh para frater anggota komunitas sastra dan terbit sampai hari ini. 

Romo Janu menjelaskan makna filosofis nama Santarang pada edisi perdana yang terbit Mei 2012. Sabana melambangkan keluasan, keindahan dan petualangan menuju kedalaman. Lontar melambangkan kreativitas. Karang melambangkan keberkanjangan, keuletan dan kekokohan.

Dengan alasan mendesak, kawan-kawan yang hadir pada malam itu di Taman Nostalgia kemudian ditunjuk untuk mengasuh setiap rubrik awal yang ada di Santarang

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved