Flores Timur Terkini

Pengungsi Gunung Lewotobi Tak Bisa Kerja Cari Makan Jika Erupsi Meningkat

Gemuruh Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Pulau Flores, NTT, sejak siang hingga malam tak kunjung berhenti

|
POS-KUPANG.COM/PAUL KABELEN
PENYINTAS - Tiga orang pengungsi Gunung Lewotobi sedang duduk di camp pengungsian Desa Kobasoma, Kecamatan Titehena, Flores Timur, NTT, Minggu (18/5). 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Paul Kabelen

POS-KUPANG.COM, LARANTUKA - Gemuruh Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Pulau Flores, NTT, sejak siang hingga malam tak kunjung berhenti bahkan semakin menjadi-jadi, Minggu (18/5/2025).

Jika peningkatan erupsi terus berlangsung seperti ini, penyintas tak menggarap kebunnya yang berada di bawah lereng gunung berstatus Level III (Siaga) itu. Ini tentu menjadi persoalan serius dan urgen.

Seperti dialami Stefanus Noba, penyintas asal Desa Nawokote, Kecamatan Wulanggitang kini mengungsi di pos lapangan Desa Kobasoma di Kecamatan Titehena.

"Kami tidak bisa bekerja untuk cari makan jika gunung meletus. Kebun kami berada di wilayah zona merah," kata Stefanus Noba di posko pengungsian.

Baca juga: Pengungsi Gunung Lewotobi Tak Bisa Kerja Cari Makan Jika Erupsi Meningkat

Stefanus Noba bersama ribuan penyintas telah mengungsi sejak 4 November 2024 atau enam bulan yang lalu.

Awal-awal mengungsi banyak bantuan yang mengalir, namun kini sudah tidak lancar lagi.

Mereka akhirnya pulang ke kampung untuk memanen kelapa dan kemiri. Aktivias di tengah bahaya itu semata-mata demi membeli makan dan minum.

Stefanus Noba bukan tipikal pemalas melainkan contoh ayah pekerja keras.

Namun saat erupsi tak kunjung jeda, pria 35 tahun itu tidak berani berkebun. Aktivitas mereka dibatasi kondisi alam. Tak kerja lapar, nekat bekerja bisa-bisa kehilangan nyawa.

"Aktivitas kami sangat dibatasi oleh alam, tapi kami tetap bertahan. Kadang kala kami nekat pergi kebun supaya bisa beli makan. Bertahan harap tunggu bantuan tidak akan bisa buat kami bertahan lama," cerita Stefanus Noba.

Baca juga: LIPSUS: Gubernur NTT Minta Education Fair  jadi Agenda Tahunan Selaras dengan Program Melki-Johni 

Bulan April kemarin, pengungsi diberi jatah beras 1 mug per 1 jiwa untuk bertahan selama satu minggu. Bantuan Pemerintah Kabupaten Flores Timur itu tentu tak akan cukup.

"Ada kalanya kami makan satu hari hanya satu kali. Yang paling diperhatikan itu anak-anak kecil," kata Stefanus Noba.

Poslap Desa Kobasoma adalah salah satu dari empat poslap yang didirikan pemerintah untuk menampung korban bencana.

Camp pengungsi di Kecamatan Titehena ini menampung warga penyintas asal Kecamatan Wulanggitang dan Ile Bura.

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved