Jumat, 17 April 2026

Amerika Serikat

Mantan Presiden AS Joe Biden Menderita Kanker Prostat, Donald Trump Bersedih

Presiden AS Donald Trump merasa sedih mendengar kabar tersebut. Dia berharap Joe Biden segera pulih.

|
Editor: Dion DB Putra
TANGKAPAN LAYAR YT FOX 29 PHILADELPHIA
MENGIDAP KANKER PROSTAT - Joe Biden (kedua dari kiri) dan istri saat menyambut Presiden Donald Trump dan ibu negara di Gedung Putih Washington DC, Amerika Serikat, seusai pelantikan, Senin (20/1/2025) waktu Amerika. Teranyar, dokter mendiagnosa Joe Biden mengidap kanker prostat stadium 4. 

POS-KUPANG.COM, WASHINGTON - Kabar kurang menggembirakan datang dari mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden.

Dokter mendiagnosa pria berusia 82 tahun tersebut mengidap kanker prostat agresif yang telah menyebar ke tulang.

Presiden AS Donald Trump merasa sedih mendengar kabar tersebut. Dia berharap Joe Biden segera pulih.

Menurut para ahli, kanker yang diderita Joe Biden sulit disembuhkan karena sudah stadium 4. 

Akan tetapi masih bisa dikendalikan selama beberapa tahun melalui berbagai metode pengobatan. 

Direktur Medis Program Kanker di Northwestern Health Network, Dokter Chris George,  menjelaskan penyebaran kanker ke tulang menandakan  penyakit tersebut sudah berada di tahap akhir. 

“Ketika kanker sudah menyebar ke tulang, itu berarti stadium 4. Tidak ada pengobatan yang bisa menyembuhkan, tapi ada banyak terapi yang bisa mengontrol kanker ini,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Senin (19/5/2025). 

Chris George menjelaskan, pada banyak kasus, kanker bisa dikendalikan selama dua hingga tiga tahun. “Bahkan beberapa pasien yang beruntung bisa bertahan empat, lima, enam tahun atau lebih lama,” katanya. 

Menurut Dokter Jamin Brahmbhatt, ahli urologi dari Orlando Health Medical Group, pasien kanker prostat stadium lanjut seperti Biden biasanya langsung memulai terapi penekanan hormon (androgen deprivation therapy) sejak hari diagnosis. 

“Terapi ini seperti kastrasi hormon.  Tujuannya adalah menghambat hormon testosteron yang memberi makan kanker,” ujar Brahmbhatt. 

Ia menjelaskan, seiring waktu dan perkembangan kondisi, tim medis bisa menambahkan berbagai terapi lain sesuai kebutuhan pasien. 

Meskipun demikian, terapi hormon ini bisa menimbulkan berbagai efek samping, seperti hot flashes, kelelahan, melemahnya tulang, bahkan gangguan jantung. 

Bagi pasien lansia seperti Biden, yang mungkin sudah memiliki kelemahan fisik atau kognitif sebelumnya, efek samping ini bisa terasa lebih berat. 

Namun, George kembali memperingatkan bahwa meskipun terapi ini efektif dalam mengontrol gejala dan menurunkan indikator kanker seperti kadar PSA (Prostate-Specific Antigen), pengobatan ini tidak dapat menyembuhkan. 

"Strategi ini bisa berhenti efektif kapan saja. Kita berharap bisa bertahan bertahun-tahun, tapi bisa juga hanya enam hingga dua belas bulan. Itu akan mengecewakan," ujarnya. 

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved