Kamis, 16 April 2026

Paus Fransiskus Wafat

Dikasihi maka Dipilih: Kenangan Pribadi atas Sri Paus Fransiskus

Paus Fransiskus pernah berkata bahwa Maria adalah ibu yang tidak meninggalkan kita di tengah malam kehidupan. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Pastor Leo Mali (kiri) ketika bertemu dengan Paus Fransiskus pada 25 Desember 2019. 

Oleh: RD. Leo Mali
Rohaniwan dan Dosen Filsafat pada Fakultas Filsafat Unwira Kupang

POS-KUPANG.COM -  Pada pagi yang tenang, 21 April 2025, pukul 07.35 waktu Roma, lonceng lonceng Vatikan berdentang dalam hening yang menggema ke seluruh penjuru dunia. 

Kabar duka datang: Kardinal Joseph Kevin Farrell, Camerlengo Takhta Suci, mengumumkan, "Il Vescovo di Roma è tornato alla casa del Padre." Uskup Roma, Paus Fransiskus, telah kembali ke rumah Bapa. 

Sejenak dunia berhenti, dan hati saya — seorang imam kecil yang pernah mengenyam pengalaman studi di Roma — terdiam, terangkat dalam doa yang perlahan berubah menjadi kenangan. 

Selama berada di Roma, saya pernah bertemu beliau dua kali dalam audiensi Natal, pada Desember 2018 dan 2019. 

Namun, bukan pertemuan-pertemuan itu yang terpatri paling kuat dalam hati saya meski banyak hal yang bisa diceritakan. 

Namun hal yang ingin saya tulis di sini adalah justru sebuah pertemuan yang tak pernah terjadi. Anehnya, justru peristiwa itulah yang paling mendalam, membentuk ikatan batin yang lebih kuat, lebih spiritual.

Kisah ini bermula dari satu devosi yang sederhana namun penuh makna: “Maria yang Mengurai Simpul Kehidupan” — Madonna che scioglie i nodi. 

Devosi ini dikenal Paus Fransiskus, saat itu masih seorang Pastor Bergoglio, ketika menjalani studi di Jerman tahun 1986. 

Di sebuah gereja kecil di Augsburg, ia menemukan lukisan karya Johann Georg Melchior Schmidtner dari abad ke-18: Maria sedang mengurai pita yang kusut, dibantu dua malaikat. Ia terdiam di hadapan lukisan itu. 

Bagi Bergoglio, Maria dalam lukisan itu bukan sekadar simbol. Ia adalah Ibu yang sabar, lemah lembut, yang mengurai kerumitan hidup umat manusia, simpul demi simpul, tanpa keluh, tanpa henti. 

Sepulang ke Argentina, devosi ini diperkenalkannya kepada umat, dan perlahan berkembang menjadi salah satu devosi paling dicintai di Amerika Latin. 

Namun, devosi ini tidak hanya berkembang karena pewartaan, tetapi karena ia sendiri pernah terjerat simpul-simpul kehidupan. 

Studi doktoralnya di Frankfurt tidak selesai, mungkin karena kendala bahasa, tekanan pastoral, atau ketidakcocokan dengan pendekatan akademik Jerman. 

Pengalaman itu menjadi luka batin. Tapi justru dari luka itulah ia tumbuh  dan berkembang.

Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved