NTT Terkini
Nilai Tukar Petani NTT Turun 1,07 Persen pada Maret 2025
NTP adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dan indeks harga yang dibeli, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun biaya bahan modal
Penulis: Elisabeth Eklesia Mei | Editor: Eflin Rote
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eklesia Mei
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi NTT mengalami penurunan sebesar 1,07 persen pada bulan Maret 2025 jika dibandingkan dengan NTP bulan Februari 2025.
Hal ini disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTT, Matamira B Kale, Senin (14/4/2025).
Matamira menjelaskan, NTP adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani dan indeks harga yang dibeli, baik untuk konsumsi rumah tangga maupun biaya bahan modal. Yang mana, rasio ini secara konsep hanya menggambarkan laju perkembangan harga jual dan harga beli bukan menjadi pendekatan untuk mengukur kesejahteraan petani.
“NTP NTT terjadi penurunan 1,07 persen pada Bulan Maret 2025 jika dibandingkan dengan NTP Februari 2025. Perubahan ini disebabkan oleh perkembangan indeks harga terima yang lebih lambat dibandingkan harga bayar,” kata Matamira.
Pada Bulan Maret 2025, kata Matamira, NTP NTT sebesar 100,35 dengan NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 98,86 untuk subsektor tanaman padi-palawija (NTP-P), 97,04 untuk subsektor hortikultura (NTP-H), 102,54 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-TPR), 106,63 untuk subsektor peternakan (NTP-Pt) dan 92,89 untuk subsektor perikanan (NTP-Pi).
“Ini berarti bahwa harga komoditas pertanian menurun sedangkan harga komoditas konsumsi rumah tangga dan barang bisa mengalami peningkatan. Penurunan ini terjadi di terjadi di semua subsektor cakupan NTP,” ucap Matamira.
Jika dilihat dari indeks penyusun NTP, kata Matamira, indeks terima menurun sebesar 0,22 persen sedangkan indeks bayar meningkat 0,86 persen.
“Peningkatan komponen indeks bayar didorong oleh peningkatan indeks konsumsi rumah tangga yaitu meningkat 0,95 persen dan komponen biaya produksi dan penambahan barang modal meningkat 0,23 persen,” bebernya.
Matamira menyebut, penurunan NTP Maret 2025 terjadi pada semua subsektor pertanian. Yang mana, subsektor tanaman pangan turun 0,85 persen, subsektor hortikultura turun 1,37 persen, subsektor perkebunan rakyat turun 1,56 persen dan subsektor peternakan turun 0,93 persen. Secara umum juga NTP sektor perikanan mengalami penurunan yaitu sebesar 1,29 persen.
“Akan tetapi jika kita lihat lebih rinci menurut kelompok penyusunnya maka kelompok budidaya ikan naik 0,84 persen sedangkan kelompok penangkapan ikan turun 2,06 persen,” tandasnya.
Baca juga: Nilai Tukar Petani NTT bulan Februari 2025 Turun 0,16 Persen
Lebih lanjut, Matamira menjelaskan, indikator dari NTP yaitu nilai tukar usaha petani adalah rasio dari indeks harga yang diterima atau IT petani dengan indeks harga yang dibayar atau IB petani.
“IT merupakan indikator tingkat pendapatan industri pertanian sedangkan indeks bayar atau IB menggambarkan sisi kebutuhan petani baik untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga maupun biaya produksi dan penambahan barang modal. Rasio ini secara konsep hanya menggambarkan laju perkembangan harga jual dan harga beli bukan menjadi pendekatan untuk mengukur kesejahteraan petani,” jelas Matamira.
Matamira menambahkan, di daerah perdesaan terjadi inflasi sebesar 0,95 persen. Inflasi ini utamanya terjadi pada sub kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga. (mey)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
Pengamat Politik Undana Angkat Bicara Tentang Polemik Kenaikan Tunjangan DPR RI |
![]() |
---|
Prajurit Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Barat Lakukan Pengamanan Intensif |
![]() |
---|
Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah Menilai Kenaikan Tunjangan DPRD Tidak Tepat |
![]() |
---|
Anggota DPRD NTT David Boimau Kritisi Polemik Kenaikan Tunjangan DPR RI |
![]() |
---|
Fraksi Demokrat DPRD Sebut APBD NTT Banyak Biayai Rutinitas Birokrasi Dibanding Produktif |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.