Breaking News
Selasa, 2 Juni 2026

Uskup Petrus Turang Wafat

Opini: Tempat Kosong di Atas Mitra Uskup

Mgr. Turang bukan tipe gembala yang mencari sorotan, namun langkahnya senantiasa terasa dalam diam. Ia berjalan jauh untuk menjangkau yang jauh. 

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOK POS KUPANG
Uskup emeritus Mgr. Petrus Turang, Pr. 

Tahun ini, tahun Yubelium dengan tema Peregrinantes in spem —peziarah pengharapan—ia mengakhiri ziarahnya dengan cara yang begitu indah: memasuki pintu keabadian, seperti umat diajak memasuki Pintu Suci demi memperoleh indulgensi penuh.

Leo Mali, Pr
Leo Mali, Pr (POS-KUPANG.COM/ROSALINA WOSO)

Ketika ditahbiskan beliau memilih moto episcopalnya, Per transiit benefaciendo— “Ia  (Yesus) berkeliling sambil berbuat baik” (Kis. 10:38)—adalah janji yang tidak pernah ia khianati. 

Mgr. Turang bukan tipe gembala yang mencari sorotan, namun langkahnya senantiasa terasa dalam diam. Ia berjalan jauh untuk menjangkau yang jauh. 

Ia hadir di pelosok, mendengar suara umat kecil, dan merawat harapan mereka yang seringkali dipinggirkan oleh waktu dan sistem. 

Di tanah Nusa Tenggara Timur yang keras dan kerap diwarnai tantangan sosial, ia menjelma seperti sungai tenang yang memberi hidup bagi banyak jiwa.

Sebagai gembala, Mgr. Petrus Turang menunjukkan keseimbangan antara teologi dan pastoral. Ia menghidupi imannya tidak hanya dalam ritus dan rubrik, tetapi terutama dalam kedekatan. 

Meski kadang, sebagai seorang yang sangat cerdas dan berwawasan sangat luas, ia menjadi kurang sabaran di antara kawanannya sendiri. 

Ia memanusiakan jabatan uskup, bukan dengan melemahkan wibawanya, tetapi dengan menjadikannya cermin kasih Kristus yang merangkul. 

Ia tidak menuntut penghormatan, tapi umat menghormatinya dengan tulus. Saya ingat sebuah kejadian sederhana di bulan Oktober tahun 1999 ketika beliau mengunjungi Kapela Stasi Pakubaun Amarasi. 

Saat itu saya bertugas sebagai Pastor Paroki.  Beliau menolak dan tidak mau umat mencium tangannya. 

Saya harus meyakinkan beliau, agar umat boleh mencium tangannya. Akhirnya beliau mengalah. 

Ia tidak mengejar pengaruh, tapi pengaruhnya menetap dalam kesetiaan panjang umat terhadap bimbingannya.

Dalam banyak kesempatan, ia tampil sebagai penafsir zaman. Ia mengangkat suara terhadap ketidakadilan sosial (meski kadang dengan cara yang sangat halus), mendukung pendidikan yang bermartabat, dan menyuarakan pentingnya solidaritas lintas iman. 

Namun, seperti halnya Kristus yang memilih naik ke Yerusalem dalam kesunyian dan ketaatan, Mgr. Turang menjalani jalannya sebagai gembala tanpa hiruk-pikuk. 

Pelayanannya adalah litani panjang dari kebaikan-kebaikan kecil yang terus bergema. 

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved