Sabtu, 11 April 2026

Ramadan 2025

Hikmah Ramadan: Merawat Kemabruran Puasa - Dari Religiusitas dan Mindedness Religius

Ruang dan jendela untuk mengintip dunia nyata sangat terbatas karena dikelilingi spektrum ajaran agama.

Editor: Alfons Nedabang
KOLASE POS-KUPANG.COM
HIKMAH RAMADAN - Menteri Agama (Menag) RI, KH. Prof. Nasaruddin Umar menulis Hikmah Ramadan - Merawat Kemabruran Puasa selama bulan Ramadan 2025. 

Oleh: Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA

POS-KUPANG.COM - Religiusitas ketika seseorang merasa dirangkul oleh agamanya. Keseluruhan pandangan hidup dan prilakunya didominasi oleh ajaran faormal agama. 

Seolah-olah ruang, waktu, dan dirinya merupakan satu kesatuan kental dengan ajaran agama. Sementara di nun jauh di sana (transenden) Ada Tuhan beserta para malaikat mengawasinya dengan ketat.

Ruang dan jendela untuk mengintip dunia nyata sangat terbatas karena dikelilingi dan dipenuhi oleh spektrum ajaran agama.

Di sekitarnya seolah dekelilingi daerah terlarang sehingga dinamika dan kebebasan berekspresi menjadi kaku karena terlalu banyak rambu-rambu yang berdiri tegak.

Kreatifitas dan inisiatifnya sebagai khalifah ditenggelamkan oleh kapasitas dirinya sebagai abid (hamba).

Baca juga: Hikmah Ramadan: Merawat Kemabruran Puasa - Dari Sufi Palsu ke Sufi Sejati

Berjiwa religius ketika seseorang merasa merangkul agamanya. Agama bagaikan berada di dalam genggaman, ke manapun ia pergi selalu bersamanya, namun ia tidak merangkul dirinya melainkan dirinya yang menggenggam agama itu.

Dampaknya, orang akan merasa lebih merdeka dan memiliki hamparan luas dan longgar untuk berekspresi dan berkreasi.

Pembatas rambu-rambu itu tidak berdiri tegak di luar dirinya tetapi melekat di dalam dirinya, sehingga tersebar luas tanpa terpantul oleh papan-papan perboden keagamaan.

Hidup dan kehidupannya lebih dinamis karena merasa diberikan kebebasan penuh dari ajaran agamanya sendiri.

Pada prinsipnya segala sesuatu boleh kecuali yang secara khusus dilarang. Jumlah larangan itu sangat sedikit.

Ia merasa lebih merdeka sebagai khalifah karena sikap perhambaan dirinya kepada Tuhan tidak menghalanginya untuk berkreasi dan berinisiatif.

Baca juga: Hikmah Ramadan: Merawat Kemabruran Puasa - Dari Wirid ke Warid

Suasana batin religius cenderung lebih tertutup dan kadang-kadang mendekati garis keras karena ia memandang kehidupan ini hitam dan putih.

Artinya kalau bukan putih pasti hitam atau sebaliknya. Suasana batin ini lebih berpotensi untuk berbenturan satu sama lain karena sudah barang tentu ia harus tegas dan istiqamah terhadap keyakinan agama dianutnya.

Orang lain yang tidak sefaham dirinya cenderung salah, karena ia merasa lebih sesuai dengan teks-teks ajaran agama.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved