Ramadan 2025
Hikmah Ramadan: Merawat Kemabruran Puasa - Dari Salam, Islam, dan ke Istislam
Istislam adalah seruan kedamaian dan kepasrahan yang lebih cepat, tegas, kaku, dan sempurna.
Oleh: Menteri Agama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA
POS-KUPANG.COM - Huruf sin, lam, mim (salima) sebuah akar kata yang membentuk kata salam (damai), islam (kekedamaian), Istislam (pembawa kedamaian), dan Taslim (ketundukan, kepasrahan, dan ketenangan).
Salam adalah kedamaian dan kepasrahan dalam pengertian yang lebih umum. Islam adalah kedamaian dan kepasrahan dalam pengertian yang lebih khusus, memiliki kumpulan konsepsi nilai dan norma (value & norm).
Istislam adalah seruan kedamaian dan kepasrahan yang lebih cepat, tegas, kaku, dan sempurna (perfect).
Allah Swt memberi nama agamanya yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw dengan agama Islam. Bukan agama salam (kepasrahan tanpa konsep).
Bukan juga agama istislam yang lebih mengutamakan kecepatan, ketegasan, dan kesempurnaan dalam memperjuangkan perdamaian dan kepasrahan).
Baca juga: Hikmah Ramadan: Merawat Kemabruran Puasa - Dari Wirid ke Warid
Kata islam itu sendiri mengisyaratkan jalan tengah atau moderat (tawassuth). Di dalam Al-Qur'an disebutkan: Inna al-dina 'inda Allah al-islam ( sejatinya agama di sisi Allah hanyalah Islam/QS Ali Imran/3:19), man yabtagi gair al-islam dinan falan yuqbala minhu (Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya/QS Ali Imran/3:19).
Perhatikan ayat-ayat tersebut di atas semuanya menggunakan kata al-islam, dengan menggunakan alif ma'rifah (al), bukan islam dalam bentuk nakirah, bukan juga salam atau istislam.
Ini semua menunjukkan bahwa dari segi bahasa saja al-islam (Islam) sudah mengisyaratkan jalan tengah, moderat, dan sudah barang tentu menolak kekerasan dan keonaran.
Seharusnya seorang muslim (orang yang beragama Islam) itu mengedepankan kedamaian, ketundukan, kepasrahan dan pada akhirnya merasakan ketenangan lahir batin.
Baca juga: Hikmah Ramadan: Merawat Kemabruran Puasa - Dari Taabbud ke Istianah
Agaknya kontradiktif jika panji-panji Islam dibawa-bawa untuk sesuatu yang menyebabkan lahirnya kekacauan dan ketidaknyamanan.
Apa lagi jika atas nama Islam digunakan untuk melayangkan nyawa-nyawa orang yang tak berdosa, sangat tidak cocok dengan kata islam itu sendiri.
Kelompok minoritas muslim liberal memaknai Islam dengan konteks salam, yang lebih bersifat inklusif-substantif, sedangkan kelompok minoritas muslim radikal lebih memaknai Islam dengan konteks istislam, yang menuntut intensitas dan semangat progresif dalam mewujudkan nilai dan norma Islam.
Kelompok muslim arus utama memaknainya sebagai sistem nilai dan norma kemanusiaan yang terbuka. (*)
Ikuti beita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Hikmah-Ramadan-Oleh-Menteri-Agama-KH-Prof-Nasaruddin-Umar.jpg)