Opini
Opini: Mencari Wajah Ramah Gereja
Orang akhirnya sampai pada pertanyaan di mana Wajah Gereja yang sebenarnya? Di sinilah letak ketidakhadiran Gereja.
Menanggapi Konflik Lahan di Sikka
Oleh: Dony Kleden
Rohaniwan dan Antropolog dari Universitas Katolik Weetebula, Sumba Barat Daya - NTT
POS-KUPANG.COM - Sejatinya Gereja hadir untuk memastikan citra dan sifat-sifat Ilahi Allah dirasa dan menyapa semua orang tanpa kecuali.
Sejatinya Gereja dihadirkan untuk membangun Kerajaan Allah yang yang berciri damai, rela berkorban, memaafkan dan bila perlu mau mengalah demi sebuah kemashlatan umat manusia yang menjadi bagian dari kesejatian diri dan kesaksiannya.
Gereja pada akhirnya dituntut untuk menampakan wajahnya yang ramah, santun dan penuh damai, tidak beringas karena hasrat materialisme yang menggerogoti nubari anggota Gereja yang pada akhirnya mau membenamkan sesamanya untuk kepentingan materialistis yang semu.
Gereja terkesan alpa ketika tega menutup mata, telinga dan hati terhadap segala teriakan orang-orang yang teraniaya dan digusur jati diri dan jiwa mereka.
Orang akhirnya sampai pada pertanyaan di mana Wajah Gereja yang sebenarnya? Di sinilah letak ketidakhadiran Gereja.
Gereja yang Humanis
Ajaran Gereja Katolik menekankan pentingnya keberpihakan terhadap orang
kecil atau yang terpinggirkan.
Ini didasarkan pada prinsip dasar kasih dan keadilan sosial yang menjadi inti ajaran Kristus.
Dalam Alkitab, banyak bagian yang mengajarkan untuk peduli pada yang miskin, lemah, dan tertindas.
Salah satu dasar ajaran ini bisa ditemukan dalam Kitab Injil, di mana Yesus sendiri sering kali memberi perhatian khusus kepada orang miskin, sakit, dan orang-orang yang dianggap terpinggirkan oleh masyarakat.
Misalnya, dalam Injil Lukas 4:18, Yesus mengatakan bahwa Dia diutus untuk memberitakan kabar baik kepada orang miskin dan membebaskan mereka yang tertawan.
Paus Fransiskus sangat vokal dalam menyerukan keberpihakan terhadap orang kecil.
Pada tahun 2013, Paus Fransiskus mengeluarkan ensiklik Evangelii Gaudium (Kabar Gembira yang Menggembirakan), yang menekankan bahwa Gereja harus mendengarkan suara orang miskin dan terpinggirkan serta menanggapi kebutuhan mereka dengan tindakan nyata.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Warga-hadang-alat-berat.jpg)