Opini

Opini: Mencari Wajah Ramah Gereja

Orang akhirnya sampai pada pertanyaan di mana Wajah Gereja yang sebenarnya? Di sinilah letak ketidakhadiran Gereja.

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/ARNOLD WELIANTO
Ratusan warga menghadang alat berat saat akan melakukan pembersihan rumah yang berada di atas tanah eks hak guna usaha Nangahale di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Rabu (22/1/2025). 

Menanggapi Konflik Lahan di Sikka

Oleh: Dony Kleden
Rohaniwan dan Antropolog dari Universitas Katolik Weetebula, Sumba Barat Daya - NTT

POS-KUPANG.COM - Sejatinya Gereja hadir untuk memastikan citra dan sifat-sifat Ilahi Allah dirasa dan menyapa semua orang tanpa kecuali. 

Sejatinya Gereja dihadirkan untuk membangun Kerajaan Allah yang yang berciri damai, rela berkorban, memaafkan dan bila perlu mau mengalah demi sebuah kemashlatan umat manusia yang menjadi bagian dari kesejatian diri dan kesaksiannya. 

Gereja pada akhirnya dituntut untuk menampakan wajahnya yang ramah, santun dan penuh damai, tidak beringas karena hasrat materialisme yang menggerogoti nubari anggota Gereja yang pada akhirnya mau membenamkan sesamanya untuk kepentingan materialistis yang semu. 

TIDAK RELEVAN - Antropolog dari Universitas Katolik Weetabula, Sumba Barat Daya, NTT, Pater Doni Kleden  mengatakan budaya kawin paksa sebagaimana terjadi di Pulau Sumba dan beberapa daerah lain di NTT sudah tidak relevan lagi sesuai kondisi sekarang. Konteksnya sudah berubah  dan kebutuhan sudah berubah pula.
Antropolog dari Universitas Katolik Weetabula, Sumba Barat Daya, NTT, Pater Dony Kleden. (POS-KUPANG.COM/HO)

Gereja terkesan alpa ketika tega menutup mata, telinga dan hati terhadap segala teriakan orang-orang yang teraniaya dan digusur jati diri dan jiwa mereka. 

Orang akhirnya sampai pada pertanyaan di mana Wajah Gereja yang sebenarnya? Di sinilah letak ketidakhadiran Gereja.

Gereja yang Humanis

Ajaran Gereja Katolik menekankan pentingnya keberpihakan terhadap orang
kecil atau yang terpinggirkan. 

Ini didasarkan pada prinsip dasar kasih dan keadilan sosial yang menjadi inti ajaran Kristus. 

Dalam Alkitab, banyak bagian yang mengajarkan untuk peduli pada yang miskin, lemah, dan tertindas. 

Salah satu dasar ajaran ini bisa ditemukan dalam Kitab Injil, di mana Yesus sendiri sering kali memberi perhatian khusus kepada orang miskin, sakit, dan orang-orang yang dianggap terpinggirkan oleh masyarakat. 

Misalnya, dalam Injil Lukas 4:18, Yesus mengatakan bahwa Dia diutus untuk memberitakan kabar baik kepada orang miskin dan membebaskan mereka yang tertawan.

Paus Fransiskus sangat vokal dalam menyerukan keberpihakan terhadap orang kecil. 

Pada tahun 2013, Paus Fransiskus mengeluarkan ensiklik Evangelii Gaudium (Kabar Gembira yang Menggembirakan), yang menekankan bahwa Gereja harus mendengarkan suara orang miskin dan terpinggirkan serta menanggapi kebutuhan mereka dengan tindakan nyata. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved