Opini
Opini: Kota Bersih
Tidak boleh tanaman menderita kekeringan di musim kemarau. Ini tidak berat, hanya perlu keseriusan dari kita, masyarakat dan pemerintah kota.
Ranting pohon pun tidak boleh dipangkas tanpa izin dari dinas. Penulis sebagai peserta kursus, bertanya, mengapa peraturan begitu ketat? Dijawab, itu kita punya paru-paru, harus dijaga, dirawat.
Kalau tiap orang bebas potong dahan kayu, maka penduduk kota yang waktu itu sekitar lima ratus ribu orang, terdiri dari anak-anak balita lima puluh ribu, berarti sekitar empat ratus lima puluh ribu orang yang sudah mampu mematahkan ranting pohon, dalam sehari bisa empat ratus lima puluh ribu ranting pohon dipatahkan. Dalam sekejap kota ini akan gundul.
Keterangan ini terlalu berlebihan. Tapi penulis bersama beberapa peserta kursus dari Asia, cuma angguk-angguk. Lalu pemberi kursus melanjutkan, kaleng bekas minuman pun tidak boleh dibuang sembarangan.
Kalau tidak dilarang, maka dalam satu menit, kota ini akan dipenuhi dengan empat ratus lima puluh ribu kaleng bekas. Di situ kami peserta kursus semua tertawa terbahak-bahak. Pemberi kursus cuma tersenyum, puas bahwa keterangannya masuk otak orang Asia.
Maaf, penulis terlalu menerawang jauh ke Belanda sana. Mari kita pulang ke kota Kupang, kota Kasih, kota Sayang, entah nama apa lagi, terserah, asal jangan bilang Kota sampah.
Itu penulis marah. Siapa yang berani bilang demikian, pasti penulis akan laporkan dia ke Bapak Wali kota.
Kita penghuni Kota Kupang sekarang perbaharui niat, buat kota ini memenuhi empat sifat: bersih, hijau, segar, sehat. Bersih karena kita ada nafsu untuk lepaskan diri dari bermacam sampah.
Hijau karena kita semua ada nalar untuk tanam dan rawat tanaman, pohon-pohon yang ada dan yang baru ditanam.
Segar karena naluri kita tertawa ria di bawah naungan dedaunan hijau. Sehat karena nurani kita tenang sesuai kata orang Latin, mens sana in corpore sano, budi yang sehat dalam badan yang sehat. Apa tindakan nyata kita?
Yang Mulia Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni dengan sangat serius berkata beberapa waktu lalu di depan penulis, “Kota Kupang ini bisa hijau sepanjang tahun kalau pohon-pohon yang ada dan yang ditanam nanti, dipelihara dengan baik. Untuk itu perlu air secukupnya untuk siram. Di mana-mana dibuat bak penampung dan tetap diisi dengan air pakai mobil-mobil tangki. Dari bak-bak itu air dialirkan ke bidang tanah sekitar lewat pipa-pipa dengan sistim irigasi tetes.”
Ungkapan beliau ini hasil pengalaman beliau di luar negeri, terutama di kota Roma selama beliau studi di sana.
Beliau melanjutkan, “Kalau pohon-pohon sudah tumbuh, jaga jangan sampai terbakar. Usaha penghijauan dalam kota ini harus menjadi contoh untuk kota-kota lain, dan untuk seluruh wilayah NTT. Tidak boleh lagi ada tanah gersang. Tanaman dan ternak bisa hidup berkembang biak sebagai hasil masyarakat untuk hidup yang layak”. Ini suara gembala.
Penulis membayangkan kota Kupang yang hijau sepanjang tahun dan pohon-pohon yang tumbuh harus segar termasuk pohon buah-buahan berbagai jenis. Mulai sukun, mangga, nangka, jambu dan jeruk.
Pohon hias, khususnya pohon sepe, flamboyan, harus diberi perhatian istimewa. Masalah air harus diperhatikan sungguh-sungguh.
Tidak boleh tanaman menderita kekeringan di musim kemarau. Ini tidak berat, hanya perlu keseriusan dari kita, masyarakat dan pemerintah kota.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/dr-anton-bele-msi-seusai-diwawancarai.jpg)