Anker Wisata Budaya
Ritual Tuba Ile di Lereng Gunung Lewotobi Laki Laki
Sebelum berjalan kaki ke sana, tetuah adat berkumpul di rumah salah satu sesepuh
POS-KUPANG.COM - Tetua adat suku bersama warga simpatisan kompak menggelar ritual 'Tuba Ile' atau memberi makan Gunung Lewotobi Laki-laki sebagai ungkapan maaf. Ritual berlangsung dalam radius bahaya yaitu 2 kilometer dari kaki gunung Lewotobi Laki-laki.
Memberi makan gunung berstatus Level III (Siaga) yang terus erupsi itu dilakukan masyarakat adat, terdiri atas suku-suku terkait yang mendiami Kecamatan Wulanggitang dan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur, NTT, Rabu (22/1).
Mesbah tempat ritual Tuba Ile berada persis di bawah gunung. Sebelum berjalan kaki ke sana, tetuah adat berkumpul di rumah salah satu sesepuh, Suli Puka, warga Dusun Bawalatang, Desa Nawokote, Kecamatan Wulanggitang.
Semua fasilitas dan perlengkapan Tuba Ile mendapat berkat oleh P. Aloysius Mukin, SVD. Sang imam katolik di Paroki Maria Ratu Semesta Alam Hokeng ini juga memberkati tetuah adat dan para simpatisan.
Utusan masing-masing suku serta simpatisan berjumlah kurang lebih 40 orang berjalan kaki melewati tanah terjal sejauh 3 kilometer dari Dusun Bawalatang. Perjalanan memakan waktu sekira 2 jam lamanya.
Mengenakan busana adat, membawa sesajen, dan menggendong anak kambing untuk hewan kurban, ritus Tuba Ile berjalan dalam suasana mendung. Kemungkinan terjadi hujan di sekitar Gunung Lewotobi Laki-kaki dan Gunung Lewotobi Perempuan, dua puncak gunung bermetafora 'Suami-Istri'.
Tetuah adat suku pemilik Gunung Lewotobi, Tobias Lewotobi Puka mengatakan, Tuba Ile digelar berdasarkan kesepakatan antar semua elemen khususnya tetuah adat sejak tanggal 8 Desember 2024.
Selama proses ritual, imbuhnya, wajib menjaga tutur kata dan sopan santun. Siapa saja tidak boleh mendokumentasikan proses inti Tuba Ile di kawasan mesbah.
"Hanya boleh di tempat ini (rumah tetuah suku, Suli Puka), di atas itu jangan," pinta pria yang membalut kepalanya dengan kain tenun itu.
Tobias mengatakan, Gunung Lewotobi diyakini sebagai nenek moyang atau leluhur. Bencana selama satu tahun hingga letusan dahsyat 3 November 2024 tak terlepas dari respons alam atas perbuatan menyimpang manusia.
"Mohon ampun atas segala yang sudah kita lakukan terhadap alam semesta, terkhususnya gunung. Kita minta ampun sekaligus ucapan terima kasih. Bukti dari dua hal ini, kita berikan sesajian ke gunung," ungkapnya.
Sesuai rencana awal, ritual Tuba Ile di kawasan Gunung Lewotobi diikuti 20-an orang. Pihaknya tak melarang partisipasi simpatisan yang ingin menyaksikan secara langsung, namun wajib taat dengan segala rambu-rambu.
"Pergi dan pulang kurang lebih 4 jam. Tuba Ile digelar satu jam, semuanya selesai baru kita pulang. Rencana awal yang ikut 20 orang, tapi bagi yang mau jalan kami persilakan, wajib jaga sikap dan sopan santun," kata Tobias.
Tobias memaparkan suku-suku terkait yang wajib hadir. Partisipasi suku dalam Tuba Ile kali ini diklaim sangat lengkap. Di antaranya Puka, Tobi, Mukin, Aran, Bukan, Uran, Kedang, Tapun, Noba, Kwuta, Blolon, Wolor, dan Mare.
Tobias selaku garis keturuan suku Puka pemilik Gunung Lewotobi berada pada barisan paling depan. Dia berjalan sambil memegang sebuah tongkat. Di barisan belakang, tampak utusan suku lain membawa sesajen dan berbagai tanaman untuk dikembalikan ke gunung.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.