NTT Terkini
Secara Budaya, Belis Bukan Perdagangan
Pengalaman saya juga masuk minang di Rote tidak seperti yang kita analisa bahwa nanti akan membuat orang terpukul dan bunuh diri, tidak.
Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Oby Lewanmeru
Maka saya pikul di bahu ini. Ketika suatu saat saya merasa ringan kita bagi, kita kembalikan. Jadi sebenarnya ini soal pendekatan hati ke hati.
Jadi seluruh Undang-Undang itu boleh diberlakukan tapi kalau pendekatan tidak ada juga akan terjadi kekakuan di sana sini, akan membuat proses itu terhalang.
Pengalaman saya juga masuk minang di Rote tidak seperti yang kita analisa bahwa nanti akan membuat orang terpukul dan bunuh diri, tidak.
Saya masuk minang juga untuk keponakan di Rote, sudah diatur di sana ternyata di sebuah rumpun, sudah ini sekian, dan aturan itu pun tidak bisa kita bayar semua.
Seperti kalau kita bayar semua berarti kita memutuskan hubungan kedepan. Itu tidak bisa terjadi. Orang Rote paling tolak itu. Orang Rote tidak akan menerima semua yang kamu bawa sementara kamu mau istilah beli putus, jadi beli putus itu terjadi ketika memberlakukan itu. Jadi bukan serta merta kita bawa ratusan juta.
Itu kan kita mempermalukan kembali pihak sebelah.
Bisakah kita katakan bahwa belis itu juga diciptakan oleh budaya dan peradaban itu sendiri?
Belis itu dilindungi oleh Undang-Undang dan juga Peraturan Kemendikbud juga dan saya katakan bahwa harus dilestarikan nilainya karena ini arif dan bijak.
Hal yang bisa kita lakukan untuk mengikuti zaman itu harus ada revitalisasi. Jadi revitalisasi kebudayaan khususnya belis ini sesuai dengan perkembangan zaman, setara dengan kesetaraan gender sehingga tidak melangkahi hak asasi manusia jadi semua ini berjalan adil.
Ada beberapa yang tidak berjalan mulus kemudian itu memberatkan, apa itu berarti adat belis ini kita tiadakan saja? Atau direvitalisasi?
Jadi begini. Kita melihat dari kondisi zaman, perjalanan zaman. Orang-orang yang akan menikah, siapa dia laki-laki itu, kita memahami benar bahwa kondisi ekonominya seperti apa. Lalu kita juga memahami benar bagaimana dia bisa sejahtera dalam rumah tangga nanti karena ada anak kita di sana.
Bagaimana masa depan anak-anak dia? Apakah dengan memikul utang untuk melengkapi belis mereka sejahtera atau cerai? Banyak di NTT cerai karena anak mau dikasih sekolah minta akta, hei kamu belum belis. Masa depan anak generasi kita hancur.
Jadi belis itu sebenarnya dikasih ke kedua mempelai, kedua orang tua atau ke siapa?
Memang dikasih kepada pihak wanita.
Ibunya, omnya itu sudah pasti akan menerima ini (belis) sebagai rasa hormat pada air susu ibu karena dia melahirkan, apalagi status sosial anak ini misalnya kita kawin anaknya sudah doktor lah, paling tidak kita sebagai laki-laki memahami benar bahwa perjuangan tidak gampang.
Kalau kita terima dengan hati yang tulus kita melakukan pendekatan. Karena demi anak-anak kita, masa depan keluarga kita melakukan pendekatan. Itu namanya melibatkan cinta di dalamnya. Kalau benar-benar cinta, kita siap pekerjaan yang baik untuk mengawini anak orang. Ya kita harus punya satu pendapatan. (uzu)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pieter-Kembo-dan-Dedy-Manafe.jpg)