NTT Terkini
Secara Budaya, Belis Bukan Perdagangan
Pengalaman saya juga masuk minang di Rote tidak seperti yang kita analisa bahwa nanti akan membuat orang terpukul dan bunuh diri, tidak.
Penulis: Michaella Uzurasi | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Michaella Uzurasi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Belis atau mahar kerap menjadi batu sandungan bagi pasangan muda mudi yang akan melangsungkan perkawinan di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Nominalnya yang tidak sedikit kadang membuat calon mempelai laki-laki harus mundur dari rencana perkawinan.
Tetapi pada umumnya masyarakat di NTT masih menjunjung tinggi adat dan budaya sebagai peninggalan dari leluhur.
Seperti apa pandangan Budayawan NTT, Pieter Kembo terkait belis dalam masyarakat adat NTT, berikut cuplikan wawancara eksklusif bersama Pos Kupang, Rabu, 15/01/2025.
Sebenarnya dari mana munculnya permintaan belis ini dan siapa yang menciptakan permintaan belis ini?
Baca juga: Berita Viral NTT, Pihak Keluarga Manja Mooy Klarifikasi Bantah Minta Belis Rp 250 Juta
Belis itu peninggalan turun temurun jadi dari tahun yang sudah cukup panjang untuk diceritakan tapi prinsipnya belis merupakan suatu harga diri wanita, harga diri suku rumpun tertentu dan itu memang wajib dilaksanakan sehingga memuluskan proses-proses menuju perkawinan sah secara agama. Ada belis yang bersifat barang, juga mungkin disesuaikan dengan kemampuan, bersifat uang tunai dan belis itu masing-masing punya tata cara.
Di NTT ada beberapa daerah yang cukup ketat belisnya, seperti Rote, Manggarai, Manggarai Barat, Bajawa, Flores Timur, Sikka dan Sumba. Tetapi itu tergantung pendekatan dua belah pihak tentunya dalam proses hubungan awal, itu kan dua belah pihak saling mengenal keluarga.
Harus diintimkan terlebih dahulu hubungan antara sang laki-laki dan perempuan, saling mengenal lebih dalam sehingga ada satu pemahaman bahwa apakah sang lelaki ini punya kemampuan untuk membiayai anak kita yang mungkin statusnya tinggi dengan biaya seperti itu.
Jikalau seseorang menetapkan belis besar, tidak serta merta itu, harusnya minimal 50 persen kita bisa menggenapi tapi tata cara pendekatan hubungan baik itu tergantung negosiasi dan juru bicara.
Tapi ini apakah tidak kita bilang seperti perdagangan karena ada negosiasi disitu?
Kalau secara budaya ini bukan suatu perdagangan. Satu rasa hormat, satu makna yang terkandung bahwa ini harga diri ibu (mempelai) perempuan sekaligus rumpun keluarga yang ada di sana dan itu bukan nilai yang sebenarnya dipersoalkan. Harga, dimana kita menghormati harga itu.
Baca juga: Opini: Belis dan Diplomasi Lunak
Ketika kita telah menghormati, kita adakan pendekatan-pendekatan baik saya kira semua terjawab. Pengalaman membuktikan. Saya isteri orang Rote. Tentu saya melewati tahap itu. Mama saya juga Rote.
Bisa diceritakan pengalamannya?
Saya melakukan pendekatan. Kalau dulu keluarga kita mungkin bisa dikatakan berada tetapi zaman sekarang tidak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pieter-Kembo-dan-Dedy-Manafe.jpg)