Kabupaten Kupang Terkini
Piru Amarasi Buatan Tangan Fransiska Timuneno Mendunia
Topi Amarasi ini biasanya dikenakan sepaket dengan busana adat Amarasi yang sebelumnya menggunakan kain batik yang diikat menjadi destar.
Penulis: Yohanes Alryanto Tapehen | Editor: Oby Lewanmeru
Soal harga kata dia untuk satu piru Amarasi dibanderol dengan harga 250 ribu rupiah.
Untuk proses pembuatan dirinya menjelaskan mula-mula menyiapkan sebuah kain tenun lalu menggambar pola diatasnya.
Setelah itu melipat sesuai pola yang sudah dibentuk dan menjahit agar bisa membentuk sebuah destar atau piru Amarasi.
Kata dia prosesnya memang cepat tapi ide untuk melipat hingga menjahit itu yang perlu ia jaga agar kualitasnya tetap terjaga.
"Saya tidak bisa sampaikan secara detail soal prosesnya tetapi saya punya kekhasan sendiri, baru-baru saya temukan model baru dimana bagian atasnya tidak kosong tapi tertutup seperti blangkon," ungkap Siska.
Saat ini juga dirinya sementara mengurus ijin usaha UMKM miliknya agar bisa berproduksi lebih banyak dengan menyerap tenaga kerja.
Dia meminta dukungan pemerintah Kabupaten Kupang lewat perijinan agar tidak menyulitkan dia dalam berusaha.
Beberapa hasil karyanya juga ia tunjukkan kepada wartawan dengan berbagai corak tenunan dan model piru.
Sementara, Jackson Baok yang mencetuskan ide pembuatan piru Amarasi ini mengatakan sejak jaman kepemerintahan raja H. A. Koroh mulai melokalkan penggunaan destar yang diadopsi dari budaya jawa ke budaya Amarasi yang menjadikan destar sebagai suatu bagian tak terpisahkan dari busana adat orang Amarasi.
Sejak dahulu ada beberapa jenis model ikatan piru sebagai penanda starata atau tingkatan sesuai nama marga dan strata sosial dalam masyarakat Amarasi.
Bentuk dan model dimaksud berupa piru’ sun mese’ yang berupa tanduk satu baik di depan atau belakang kepala, Piru’ sun nua’ berupa dua tanduk yang ada di sisi kiri dan kanan kepala. Juga ada yang menbuat simpul fuut nee di depan atau di belakang dan pola atau bentuk lainnya
Destar atay piru ini sering digunakan saat acar-acara resmi atau formal dengan menggunakan pakaian adat lengkap.
Sementara Piru amarasi yang ia gagas semuanya dari kain tenun motif Amarasi. Piru ini dibuat dari selembar kain tenun yang kemudian digunting sesuai pola ikatan dan dijahit.
"Jika kita pakai Destar asli yang terbuat dari tenunan Amarasi, maka ciri khas kemandirian kita sebagai orang Amarasi pasti selalu dinilai oleh orang lain. Filosofi Destar Amarasi sebagai makna kepemimpinan, mahkota, dan pengakuan sebagai pemimpin," jelas Jeckson.
Menurut dia Piru Amarasi sebagai simbol atau penanda dan sebagai benderanya Amarasi harus terus dikenakan dan dimasyarakatkan. Dengan mengenakan piru Amarasi menunjukkan kemandirian budaya Amarasi.
Di samping itu, memiliki maksud membangun kepercayaan diri orang Amarasi dan mendapat pengakuan suku bangsa lain terhadap orang Amarasi. Dengan demikian, generasi muda Amarasi akan bangga mengenakan pakaian adat/ pakaian tradisionl Amarasi lengkap dengan Piru’ Amarasi. (ary)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Piru-amarasi-selatan.jpg)