Kabupaten Kupang Terkini
Piru Amarasi Buatan Tangan Fransiska Timuneno Mendunia
Topi Amarasi ini biasanya dikenakan sepaket dengan busana adat Amarasi yang sebelumnya menggunakan kain batik yang diikat menjadi destar.
Penulis: Yohanes Alryanto Tapehen | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS KUPANG.COM- Ryan Tapehen
POS KUPANG.COM, OELAMASI - Penggunaan destar atau ikat kepala di Amarasi kini mulai bergeser dari sebelumnya menggunakan destar dari kain batik menjadi destar atau sering disebut piru oleh orang Amarasi dari kain tenun.
Adalah Warga Desa Retraen Kecamatan Amarasi Selatan Kabupaten Kupang, Fransiska Timuneno yang berhasil menyulap selembar selendang Amarasi menjadi topi khas Amarasi.
Topi Amarasi ini biasanya dikenakan sepaket dengan busana adat Amarasi yang sebelumnya menggunakan kain batik yang diikat menjadi destar.
Model yang dia buat cukup banyak misalnya model tanduk satu yang dikenakan di bagian depan, lalu tanduk dua yang sering diposisikan di sisi kiri dan kanan kepala serta tanduk tiga yang modelnya gabungan tanduk satu dan dua.
Piru ini terbuat dari lembaran tenun selendang yang sudah dibentuk pola dan dijahit sesuai dengan pesanan pembeli karena ukurannya harus menyesuaikan dengan kepala pembeli.
Baca juga: Sering Berpindah Lokasi dan Belajar di Gedung Darurat, SMPN 4 Amarasi Selatan Dapat Gedung Baru
Ada banyak selendang motif Amarasi yang sering dia pakai karena pembeli selalu memesan motifnua masing-masing namun yang paling sering dipesan adalah piru dengan motif Kaun Tupu.
Siksa Timuneno begitu kerap disapa, Kamis 16 Januari 2025 mengisahkan ide awal pembuatan piru Amarasi ini datang dari Camat Amarasi Selatan kala itu Jeckson Baok saat Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 74 Tingkat Kecamatan Amarasi Selatan di Kelurahan Buraen.
Usai pulang dari kegiatan tersebut dirinya sehari semalam putar otak bagaimana merangkai kain tenun yang ia punya menjadi sebuah topi.
Dirinya kemudian bereksperimen dengan melakukan lipatan agar membentuk pola topi hingga akhirnya piru pertama dengan model bertanduk satu berhasil ia buat.
"Yang saya buat pertama itu satu tanduk tapi setelah terima masukan kalau tanduk satu itu filosofinya buat rakyat jelata selain itu kebanyakan yang pesan orang yang berada maka saya buat yang tanduk dua dan tiga," kisah Siska.
Makin hari piru Amarasi yang dia buat makin banyak peminat bahkan terkadang kesulitan memenuhi permintaan karena kekuarangan bahan.
Baca juga: BREAKING NEWS: Ibu kandung Tebas Anak Balita Hingga Tewas di Desa Soba Amarasi Kupang NTT
Dirinya lalu cepat mencari jalan keluar dengan bekerjasama dengan para penenun di desa Retraen untuk menyediakan kain tenun selendang Amarasi.
Meskipun produksi rumahan dan hanya dia sendiri yang mengerjakan namun dirinya masih cukup memenuhi permintaan.
"Produk saya ini ada yang sudah pesan sampai Perancis dan Italia karena ada yang lihat di media sosial dan minta dibuatkan," ungkapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Piru-amarasi-selatan.jpg)