Breaking News

Opini

Opini: Kyoshi Wa Na Nin Iruka?

Kaisar sungguh menyadari kenyataan ini, bahwa guru dapat diandalkan untuk membangun kembali Jepang dari keterpurukannya. 

|
Editor: Dion DB Putra
DOK POS-KUPANG.COM
Ilustrasi. 

Persembahan Untuk Hari Guru Nasional 25 Nopember 2024 
Oleh: Fransiskus Borgias Hormat 
Pengawas Dikmen-Lb Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT

POS-KUPANG.COM - Apabila kita mengunjungi Hiroshima Peace Memorial Museum, melalui layar monitor yang berfungsi sebagai panduan bagi para pengunjung, yang terpasang di berbagai ruangan dan lorong.

Kita dapat menemukan beragam informasi tentang awal mula Perang Dunia II, gagasan proyek bom atom AS (Manhattan Project), hari-hari menjelang dan detik ketika bom atom melululantakkan Hiroshima, dampaknya terhadap kesehatan penduduk Hiroshima hingga saat ini, upaya pembangunan kembali Jepang pasca PD II dan berbagai aksi damai menolak penggunaan senjata nuklir. 

Namun dari semua itu, mungkin tidak banyak dari kalangan pengunjung yang tertarik dengan ungkapan tepatnya pertanyaan ini : Kyoshi wa na nin iruka? yang terselip dalam informasi  upaya pembangunan kembali Jepang pasca kalah PD II.  

Kalau dibahasa-Indonesiakan kurang lebih artinya: Berapa guru yang masih ada? (tersisa, hidup). 

Konon pertanyaan ini keluar dari mulut Kaisar Hirohito menyusul kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II setelah bom atom melululantakkan kota Hiroshima dan Nagasaki

Dalam situasi perang, apalagi kalah, pertanyaan sang kaisar sepintas terkesan sangat paradoksal. 

Mengapa pemimpin tertinggi negeri matahari terbit yang menjadi titisan Dewi Amaterashu itu tidak menanyakan jumlah tentara, peralatan militer dan senjata yang masih tersisa? Mengapa justru guru? 

Jawabannya menjadi jelas kalau kita menelusuri sejarah Jepang sejak zaman legenda, runtuhnya politik isolasi sampai Restorasi Meiji (1867). 

Kita akan menemukan benang merah sejarah betapa guru memainkan peran yang sangat strategis dalam mendidik putra-putri Jepang sehingga dapat mengantarnya menjadi bangsa modern yang disegani bangsa-bangsa lain di dunia ini. 

Kaisar sungguh menyadari kenyataan ini, bahwa guru dapat diandalkan untuk membangun kembali Jepang dari keterpurukannya. 

Dengan sepenggal kalimat tanya itu Jepang mulai bangkit lagi dan kurang dari dua dasawarsa sesudahnya, dunia kembali menyaksikan pertumbuhan Jepang yang dramatis sebagai raksasa industri, teknologi, ekonomi, dan perdagangan yang mengagumkan. 

Sebagai sebuah bentuk penghargaan dan respek dari pemerintah dan masyarakat kepada mereka yang berjasa pada bangsa dan negara termasuk guru, sekaligus menunjukkan kesetaraan, di Jepang profesi guru, dosen, profesor, dokter, dan para ahli atau professional lainnya disebut shensei. 

Namun, seorang guru biasanya akan mengatakan kyoshi kalau memperkenalkan diri bukan shensei, untuk menghindari kesan angkuh. 

Selain itu pemerintah Jepang juga memanjakan gurunya dengan berbagai tunjangan, tentu saja berbeda dari satu perfecture dengan perfecture lainnya sesuai kemampuan. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved