Breaking News
Jumat, 15 Mei 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Senin 4 November 2024, Terbuka kepada Semua Orang

aspek fundamental bahwa sesama bukanlah barang. Mereka adalah “wajah-wajah Kristus” yang terluka dan terabaikan.

Tayang:
Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/HO-DOK
Pastor John Lewar, SVD menyampaikan Renungan Harian Katolik Senin 4 November 2024, Terbuka kepada Semua Orang 

Oleh : Pastor John Lewar SVD

POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Senin 4 November 2024, Terbuka kepada Semua Orang

Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor

Perayaan Wajib St. Karolus Borromeus
Lectio: Filipi 2:1-4; Mazmur 131:1.2.3

Injil: Lukas 14:12-14

Meditatio:
Latar belakang perikop injil Lukas hari ini adalah konflik antara Yesus dan lawanlawan-Nya yang terjadi pada hari Sabat. Saat itu Yesus menghadiri suatu perjamuan. Segala perkataan dan perbuatan-Nya diawasi oleh ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Yesus sedang diuji dan diamat-amati. Lawan-lawan Yesus berharap diri-Nya membuat kesalahan.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 3 November 2024, "Cinta yang Seimbang: Tuhan dan Sesama"

 Kesalahan yang dimaksud adalah melakukan penyembuhan pada hari Sabat. Tidak peduli sedang dicari-cari kesalahan-Nya oleh banyak orang, ketika ada orang sakit yang mendatangi-Nya, Yesus tetap menyembuhkan orang itu. Meski tindakan tersebut melanggar hukum Sabat, bagi Yesus, kesembuhan orang sakit adalah hal yang penting, mendesak, dan tidak boleh ditunda (Lukas 14: 1-6, penyembuhan pada hari Sabat).

Kemudian giliran Yesus yang mengamat-amati para hadirin. Ia melihat bahwa mereka, yakni ahli Taurat dan orang-orang Farisi, punya kebiasaan yang sangat buruk. Mereka bernafsu sekali menduduki “tempat-tempat
kehormatan.”Karena itu, Yesus memberi nasihat agar orang bersikap rendah hati.

Orang yang tinggi hati, yang dengan angkuhnya mengambil tempat paling terhormat, orang itu akan malu kalau kemudian tuan rumah memintanya pindah ke tempat lain. Tuan rumah adalah orang yang paling tahu tentang tamutamunya dan yang paling berhak menentukan tempat duduk bagi tamu-tamunya itu (Lukas 14: 7-11, tempat yang pa;ing utama dan yang paling rendah).

Setelah mengkritik para undangan, Yesus ganti memperhatikan si pengundang. Sebagaimana lazim terjadi dahulu maupun sekarang, ketika mengadakan suatu pesta, perjamuan, atau acara makan-makan, orang akan mengundang kerabat, sanak saudara, relasi, koneksi, dan siapa saja yang dekat dengannya.

 Namun, Yesus punya gagasan lain. “Kalau kamu mengadakan pesta,” demikian kira-kira Ia berkata, “Undanglah orang-orang di luar kelompokmu.” Yang Ia maksud adalah kaum yang selama ini dipinggirkan oleh masyarakat, yaitu orang-orang miskin, cacat, lumpuh, dan buta.

Mereka inilah yang sebaiknya diundang dalam perjamuan karena pada dasarnya mereka berhak juga mendapatkan kebahagiaan. Tentu saja mereka tidak akan mampu mengadakan pesta dan balas memberikan undangan. Akan tetapi, justru itulah yang dimaksud. Yang membalas nanti adalah Allah sendiri, yaitu “pada hari kebangkitan orang-orang benar.”

Mengundang orang yang tidak mempunyai kesempatan untuk mengadakan pesta adalah jalan mulia yang ditawarkan oleh Yesus. Mereka bukan tidak mau, tetapi mereka tidak mampu untuk mengadakan pesta-pesta.
Melibatkan orang-orang yang disebutkan Yesus hari ini berarti memberi kesempatan pada diri kita sendiri untuk ikut tergerak hati dan merasakan apa yang mereka rasakan. Siapa tahu justru dari merekalah kita mendapat semangat hidup dan kekuatan hidup.

Yesus dengan ini memanfaatkan situasi perjamuan yang dihadiri-Nya untuk menggambarkan perjamuan yang lain, yaitu perjamuan dalam Kerajaan Allah.

Di sana yang menjadi tuan rumah adalah Bapa, sedangkan kita adalah para undangan. Menghadiri perjamuan di Kerajaan Allah, janganlah kita bersikap tinggi hati. Ingat, yang meninggikan diri akan direndahkan, sedangkan yang merendahkan diri akan ditinggikan.

Selain bersikap rendah hati, kita juga dianjurkan untuk terbuka kepada semua orang, terutama mereka yang
berkekurangan dan terpinggirkan. Orang miskin, cacat, lumpuh, dan buta sering kali dipandang rendah oleh manusia, namun tidak demikian halnya di hadapan Allah.

Allah membuka pintu Kerajaan-Nya lebar-lebar bagi mereka. Kalau kita memberi bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan, jangan pernah mengharapkan balasan apa pun dari mereka. Sungguh, mereka tidak mampu memberikannya. Baiklah tangan kita diulurkan dengan tulus hati, siapa tahu Allah berkenan dan karenanya memberi kita jalan yang lapang menuju hidup
yang kekal (https://www.lbi.or.id/2019/11/04).

Relasi sosial kita sering dibangun secara transaksional: apabila menguntungkan kita pedulikan. Kita melupakan satu aspek fundamental bahwa sesama bukanlah barang. Mereka adalah “wajah-wajah Kristus” yang terluka dan terabaikan.

Mereka juga membutuhkan sentuhan kasih, penghargaan dan keadilan. Sikap mengabaikan terhadap kaum marginal berarti mengabaikan kehadiran Kristus. Iman harus dipraktikkan dengan solidaritas sosial dengan mereka yang termarginalisasikan.

Missio:
Hari ini kita belajar peduli terhadap kelompok terpinggirkan, sebab mereka adalah wajah-wajah Kristus yang terbaikan. Doa: Allah Bapa kami bersama, Engkau telah memelihara GerejaMu dengan menganugerahkan kebijaksanaan dan kasih kepada Santo Karolus Boromeus, UskupMu.

Semoga dengan bantuan doanya, kami mampu menghadirkan wajahwajah Kristus dalam diri orang kecil dan terpinggirkan. Demi Yesus Kristus Tuhan dan penganara kami...Amin.

Sahabatku yang terkasih. Selamat Hari Senin. Salam doa dan berkatku untukmu dan keluarga di mana saja berada: Bapa dan Putera dan Roh Kudus...Amin.(*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved