Kamis, 16 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Kamis 17 Oktober 2024, “akan Dituntut”

Kalau mereka murtad dan menyangkal imannya, mereka akan selamat; kalau tidak, nyawanya akan melayang oleh pedang atau dibunuh

Editor: Rosalina Woso
FOTO PRIBADI
Bruder Pio Hayon SVD menyampaikan Renungan Harian Katolik Kamis 17 Oktober 2024, “akan Dituntut” 

Oleh: Bruder Pio Hayon SVD

POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Kamis 17 Oktober 2024, “akan Dituntut”

Hari  Kamis  Biasa Pekan XXVIII

Kamis,  17 Oktober 2024.  PW. Sto. Ignasius dari Antiokhia, Uskup dan Martir
Bacaan I:  Ef.  1: 1-10
Injil: Lukas  11: 47-54

Saudari/a yang terkasih dalam Kristus

Salam damai  sejahtera untuk kita semua. Semua hal kita lakukan atau perbuat dalam hidup kita maka akan dituntut pertanggungjawabannya. Jika kita berbuat salah misalnya, maka pasti kita dituntut untuk harus dengan jujur mempertanggungjawabkan kesalahan yang kita telah lakukan itu di  hadapan otoritas  yang telah dipercayakan oleh negara atau lembaga lainnya. Intinya, setiap perbuatan kita tentu akan dituntut pertanggungjawabannya kelak pada akhir jaman juga pada saat ini. 

Saudari/a yang terkasih dalam Kristus

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 25 Oktober 2024, Luar Bersih, dalam Penuh Rampasan

Hari ini, gereja kembali secara khusus memperingati santo Ignasius dari Antiokhia, seorang uskup dan martir. Ignasius adalah murid Santo Yohanes, Rasul dan Penulis Injil. Bagi Yohanes, Ignasius adalah murid yang mengesankan: ia pandai, saleh dan bijaksana. Oleh karena itu ia kemudian diangkat menjadi Uskup Antiokia.

Pada masa itu umat Kristen dikejar-kejar dan dianiaya oleh kakitangan Kaisar Trajanus. Ignasius sendiri tidak luput dari pengejaran dan penganiayaan itu. Biasanya kepada mereka ditawarkan hanya dua kemungkinan: murtad atau mati. Kalau mereka murtad dan menyangkal imannya, mereka akan selamat; kalau tidak, nyawanya akan melayang oleh pedang atau dibunuh dengan cara-cara lain.

Bersama Ignasius, banyak orang Kristen yang ditangkap, dihadapkan kepada kaisar yang datang ke kota itu. Kaisar menanyai Ignasius: "Siapakah engkau, hai orang jahat yang tidak menaati titahku?" Dengan tenang Ignasius menjawab: "Janganlah menyebut jahat orang yang membawa Tuhan dalam dirinya. Akulah Ignasius, pemimpin orang-orang yang sekarang berdiri di hadapanmu. Kami semua pengikut Kristus yang telah disalibkan bagi keselamatan umat manusia.

Kristus itulah Tuhan kami dan Ia tetap tinggal dalam hati kami dan menyertai kami." Jawaban tegas Ignasius itu menimbulkan amarah kaisar. Ia segera dibelenggu dan disiksa. Tetapi sebagaimana Kristus, Ignasius pun menanggung semua penderitaan itu dengan tabah sambil bersyukur kepada Tuhan karena boleh mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Dari Antiokia, Ignasius dibawa ke Roma untuk dicampakkan ke dalam kandang singa-singa lapar.

Setiba di Roma, sambil diapit ketat oleh prajurit-prajurit kafir yang kejam, ia digiring masuk gelanggang binatang buas. Di sana tubuhnya yang suci diterkam dan dicabik-cabik singa-singa lapar. Darahnya yang suci membasahi tanah gelanggang itu yang telah menampung ribuan liter darah para martir yang mati demi kesetiaannya kepada Kristus. Ignasius menerima mahkota kemuliaannya pada tahun 107.

Kisah hidup Santo Ignasius dari Antiokhia ini mengajarkan kita tentang ketulusan dan kejujuran dalam mengikuti Kristus sang Juruselamat. Dalam percakapannya dengan Kaiser: “Janganlah menyebut jahat orang yang membawa Tuhan dalam dirinya. Akulah Ignasius, pemimpin orang-orang yang sekarang berdiri di hadapanmu. Kami semua pengikut Kristus yang telah disalibkan bagi keselamatan umat manusia. Kristus itulah Tuhan kami dan Ia tetap tinggal dalam hati kami dan menyertai kami."

Pernyataan Santo Ignasius ini menjadi tanda betapa dia sangat mencintai Kristus yang  dia imani tanpa ada rasa takut sedikit pun pada Kaiser saat itu. Dan akhirnya dia pun mati karena dimakan oleh singa-singa lapar itu. Dan sejalan dengan itu, dalam Injil hari ini, Yesus persis mengecam pola hidup yang ditunjukkan oleh orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang bertolak belakang dari apa yang seharusnya mereka lakukan sesuai dengan hukum Taurat. Mereka bahkan telah membunuh para nabi dan rasul-rasul yang telah diutus Tuhan untuk menobatkan mereka: “Kalian sendiri tidak masuk ke dalamnya, tetapi orang yang berusaha untuk masuk kalian halang-halangi.”

Yesus mengecam orang Farisi dan Ahli Taurat itu sebagai ‘celakalah’ dan mereka akan dituntut atas perbuatan mereka itu di hadapan Tuhan sendiri. Kita pun kadang demikian yang selalu ikut kemauan kita sendiri dan bahkan menghalang-halangi orang lain untuk bertobat atau menjadi selamat. Maka marilah kita belajar untuk bertobat.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved