Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Rabu 16 Oktober 2024, "Allah Itu Kasih"

Umat itu tidak sungkan dengan Romo tersebut. Ia berani berkata: “Romo selalu mengajar kami hukum cinta kasih dalam homili, buktikan dong pengajaran de

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO-DOK
Pastor John Lewar, SVD 

SUARA PAGI
Bersama
Pastor John Lewar SVD
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz
STM Nenuk Atambua Timor
Rabu, 16 Oktober 2024
Hedwig, Margarita Maria Alacoque
Lectio Galatia 5:18-25; Mazmur 1:1-2.3.4.6; Lukas 11:42-46

Allah itu kasih

Meditatio:

Ada seorang Romo yang sebelumnya diberi label oleh umatnya sebagai seorang “pemarah”. Label ini muncul, mungkin karena nada bicaranya keras dan raut wajahnya cepat berubah saat ada persoalan tertentu. Pada suatu hari, ia
terpancing emosi sehingga benar-benar memarahi seorang umat.

Umat itu tidak sungkan dengan Romo tersebut. Ia berani berkata: “Romo selalu mengajar kami hukum cinta kasih dalam homili, buktikan dong pengajaran dengan perbuatanmu kepada kami. Bersikaplah adil Romo!” Romo itu diam, merasa
malu karena “tamparan” keras dari seorang umatnya. Ia berusaha mengolah emosinya dengan baik dan sekarang menjadi seorang Romo yang sangat bersahabat.

Memang, setiap perkataan yang keluar dari mulut itu haruslah sinkron dengan perbuatan nyata. Tak perlu ada sikap berpura-pura atau sikap Farisi dalam hidup bersama. (Rm. John Laba, SDB , dailyfreshjuice,15102014).

Siapakah orang-orang Farisi itu? Orang-orang Farisi (Perusyim) berarti orang-orang yang dipisahkan, orang-orang yang terasing, orang-orang yang bersifat ekslusif dalam agama Yahudi.

Origenes mengatakan bahwa orang-orang Farisi adalah orang-orang yang memisahkan diri dari kelompok Yahudi. Nama Farisi dikenal di kalangan luas pada masa kekuasaan Yonatan (160-143).

Kemungkinan, mereka adalah kaum Hasidim (1Mak 7:12). Josephus Flavius menyebut kaum Farisi sebagai salah satu sekte Yahudi bersama dengan orang Eseni dan Saduki. Orang-orang Farisi saat itu memperjuangkan pengetahuan yang mendasar tentang Taurat Musa dan tradisi nenek moyang mereka (Misna dan Talmud). Mereka menafsirkan dengan keras hal-hal yang berhubungan dengan hari Sabat, kebersihan rituil dan semua yang berkaitan dengan persepuluhan.

Sebenarnya mereka hanya memiliki satu tujuan penting yakni memisahkan diri dari semua pengajaran bukan Yahudi yang dianggap bisa mencemarkan tradisi Yahudi.

Sebenarnya prinsip ini bagus tetapi lama kelamaan mereka menjadi arogan sehingga lebih mementingkan legalitas dari pada keadilan kepada sesama dan kasih kepada Tuhan.

Penginjil Lukas hari ini mengisahkan bagaimana Yesus mengecam orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang legalis dan munafik. Mengapa Yesus mengecam orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat?

Jawaban yang pasti adalah karena mereka gagal dalam mendengar sabda Tuhan dan melakukannya. Mereka juga keliru membimbing sesama sehingga jalan mereka yang dilalui bukan jalan Tuhan.

Perikop ini, berisikan tiga kecaman. Pertama, Mereka bisa membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran tetapi mengabaikan keadilan terhadap sesama dan kasih kepada Allah. Di dalam Kitab Ulangan
dikatakan: “Haruslah engkau benar-benar mempersembahkan sepersepuluh dari seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu, tahun demi tahun.” (Ul 14:22).

Atau di dalam Kitab Imamat dikatakan: “Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik Tuhan; itulah persembahan kudus bagi Tuhan.”
(Im 27:30).

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved