Cerpen
Cerpen: Senja di Ujung Harapan
Arya, yang duduk dengan tenang, menoleh. Wajahnya penuh keriput, tetapi matanya masih menyala dengan semangat yang tak pudar. "Kita masih bisa berubah
Oleh: Marianus Jefrino
POS-KUPANG.COM - Senja mulai memeluk langit dengan rona jingga yang memudar. Aksara berdiri di tepi bukit, mengamati desa kecil di bawahnya.
Angin berembus pelan, membawa hawa sejuk dan aroma tanah yang mengering setelah hujan kemarin.
Di kejauhan, burung-burung terbang rendah, seolah mengiringi matahari yang perlahan tenggelam di balik cakrawala.
"Aku tidak mengerti lagi, Arya," gumam Aksara sambil menatap sahabatnya yang duduk di sebuah batu tak jauh dari situ.
"Dulu, kita percaya dunia ini bisaberubah. Kita yakin bahwa segala yang kita perjuangkan akan membuahkan hasil. Tapi lihat sekarang…."
Arya, yang duduk dengan tenang, menoleh. Wajahnya penuh keriput, tetapi matanya masih menyala dengan semangat yang tak pudar. "Kita masih bisa berubah, Aksara. Dunia juga."
Aksara menghela napas berat. "Kita berteriak, Arya. Kita melawan. Kita pikir, suara kita akan didengar. Tapi nyatanya? Dunia terus bergerak tanpa peduli pada mimpi-mimpi kita. Segala yang kita lakukan dulu... apa artinya sekarang?" Arya tersenyum samar.
"Kau terlalu fokus pada hasil, kawan. Kau lupa bahwa bukan itu intinya."
"Kalau bukan hasil, lalu apa?" Aksara bertanya dengan sedikit frustasi.
Arya berdiri, berjalan ke arah tepi bukit, dan memandang ke arah tanah yang luas. "Kau lihat tanah itu?" tanyanya sambil menunjuk ke lembah di bawah mereka.
"Itu tanah yang subur. Kau tahu kenapa subur? Karena ada yang menanam. Bukan hanya sekali, tapi terus-menerus, dari generasi ke generasi. Apakah mereka peduli siapa yang akan memanen? Tidak. Mereka hanya tahu satu hal bahwa menanam adalah kewajiban mereka."
Aksara terdiam. Ia memandang ke arah tanah yang dimaksud Arya, tempat sawah dan ladang terbentang luas.
"Tapi kita bukan petani. Kita bicara tentang perubahan, tentang cita-cita besar."
"Dan itu masalahnya," potong Arya. "Kau selalu berpikir bahwa perubahan itu harus besar, harus terlihat, harus cepat. Padahal, perubahan sejati sering kali terjadi dalam diam. Sama seperti para petani itu. Mereka menanam dengan sabar, menunggu waktu yang tepat, tanpa berharap pengakuan."
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Lembayung-senja.jpg)