Berita NTT

NTT Alami Deflasi -0,03 Persen Pada September 2024

Sementara itu, lanjutnya, panen tomat yang terjadi di Maumere turut memperkuat pasokan di pasaran.

POS-KUPANG.COM/EKLESIA MEI
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Agus Sistyo Widjajati di ruang kerjanya 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eklesia Mei

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Provinsi NTT mengalami deflasi sebesar -0,03 persen (mtm) pada periode September 2024.

Demikian disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Agus Sistyo Widjajati kepada POS-KUPANG.COM, Selasa 2 Oktober 2024.

Agus menyebut, berdasarkan rilis berita Resmi Statistik BPS Provinsi NTT September 2024, Provinsi NTT alami deflasi sebesar 0,03 persen (mtm) atau inflasi 1,07 persen (yoy).

"Level inflasi ini berada di bawah rentang sasaran 2,5±1 persen," kata Agus.

Agus menjelaskan, deflasi disebabkan oleh penurunan harga sejumlah komoditas hortikultura, seperti cabai rawit, kangkung, dan tomat, serta daging ayam ras dan telur ayam ras.

"Secara spasial, inflasi terjadi pada 2 wilayah pengukuran IHK, yaitu Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Maumere, sementara deflasi terjadi pada 3 wilayah pengukuran IHK lainnya dengan deflasi terdalam terjadi di Waingapu," ungkapnya.

Komoditas hortikultura, kata Agus, masih menjadi penyebab utama deflasi NTT. Yang mana, produksi cabai rawit lokal ditopang oleh panen yang terjadi di Rote dan Maumere.

Sementara itu, lanjutnya, panen tomat yang terjadi di Maumere turut memperkuat pasokan di pasaran.

"Penurunan harga cabai rawit dan tomat turut dipengaruhi oleh masuknya pasokan dari Surabaya dan Bima. Di sisi lain, panen di Kabupaten Sikka menjadi faktor penyebab deflasi kangkung," bebernya.

Lebih lanjut, Agus mengatakan, pada komoditas telur ayam ras dan daging ayam ras, penurunan harga rata-rata secara nasional turut tercermin pada deflasi daging ayam ras.

Baca juga: BI NTT Catat Indeks Keyakinan Konsumen September 2024 Naik pada Level 140,50

Meski demikian, deflasi hortikultura yang secara historis terjadi di Triwulan III merupakan fenomena yang berulang, sehingga pengendalian inflasi dapat kembali diperkuat pada periode mendatang.

"Meskipun deflasi, optimisme konsumen di Kota Kupang tetap kuat dibandingkan periode sebelumnya," kata Agus. (cr20)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM  lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved