Berita Ende
Anomali Cuaca Rusak Komoditas Pertanian, Warga di Utara Ende Terancam Gagal Panen
Rafael yang biasanya bisa memanen ratusan kilogram jambu mete per musim, tahun ini hanya bisa berharap bantuan dari pemerintah.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Albert Aquinaldo
POS-KUPANG.COM, ENDE – Petani di wilayah utara Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, tengah menghadapi krisis serius.
Anomali cuaca yang dipicu oleh fenomena El Nino dan La Nina telah merusak berbagai komoditas andalan masyarakat setempat, seperti jambu mete, kakao, dan pisang. Akibatnya, warga terancam gagal panen dan kehilangan mata pencaharian.
Rafael Madu, seorang petani di Desa Watukamba, Kecamatan Maurole, mengungkapkan kegelisahannya.
Dengan lebih dari 60 pohon jambu mete yang biasanya menjadi sumber utama penghasilannya, kini ia menghadapi kenyataan pahit: bunga-bunga yang seharusnya tumbuh lebat justru mengering dan mati.
"Biasanya bulan-bulan begini sudah panen, tapi sekarang bunga kering, tidak ada buah. Bahkan kalaupun berbuah, harga jualnya turun drastis," ujar Rafael, Sabtu, 28 September 2024.
Rafael yang biasanya bisa memanen ratusan kilogram jambu mete per musim, tahun ini hanya bisa berharap bantuan dari pemerintah.
“Kami sudah melapor ke Dinas Pertanian, tapi alasannya selalu cuaca,” keluhnya.
Tak hanya jambu mete, kebun pisang Rafael juga dilanda musibah. Penyakit darah pisang menyerang ratusan rumpun pisangnya, membuat tanaman yang biasanya menjadi sumber pendapatan tambahan kini tak bisa dipanen. Bahkan, selama tiga bulan terakhir, ia terpaksa memberi pisang-pisang yang terserang penyakit sebagai pakan ternak.
"Kami tidak pernah jual lagi pisang. Sebelum penyakit ini menyerang, saya bisa jual 40-50 tandan dengan harga Rp 25.000-30.000 per tandan. Sekarang, pisang yang ada hanya untuk ternak babi," tuturnya dengan nada putus asa.
Kondisi serupa juga dialami petani kelapa dan kopra. Cuaca yang tak menentu menyebabkan banyak tanaman perkebunan mati atau tidak menghasilkan buah yang layak panen.
Baca juga: Puluhan Pelajar Sulit Akses Internet, Dosen Unflor Minta Pemkab Ende Harus Keluar dari Zona Nyaman
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende, Gadir Dean, menyatakan pihaknya telah berupaya melakukan pengendalian khusus terhadap penyakit darah pisang melalui metode pengasapan dan eradikasi.
Namun, hingga kini hasilnya belum memadai untuk menghentikan penyebaran penyakit tersebut.
Situasi ini menjadi pukulan telak bagi masyarakat Desa Watukamba dan sekitarnya, yang mayoritas bergantung pada sektor pertanian.
Tanpa adanya solusi segera, ancaman gagal panen tidak hanya memengaruhi perekonomian warga, tetapi juga ketahanan pangan di wilayah tersebut.
Masyarakat kini berharap adanya bantuan lebih lanjut dari pemerintah daerah, baik dalam bentuk bantuan langsung maupun upaya lebih serius dalam menangani dampak perubahan iklim yang makin nyata. (*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
| Jalanan Licin Akibat Hujan, Bus DAMRI Jurusan Ende-Kelimutu Tergelincir |
|
|---|
| Polres Ende Amankan Knalpot Brong dan Meriam Spritus Selama Operasi Lilin 2024 |
|
|---|
| PLN UIW NTT Dukung Pelestarian Lingkungan dengan Menanam 10.000 Anakan Pohon di Maurole, Ende |
|
|---|
| Hingga Jelang Akhir Tahun, Sejumlah Paket Proyek Dinas PK Ende Belum Dibayar |
|
|---|
| Perayaan Natal di Ende Berlangsung Aman dan Kondusif, Kapolres: Jaga Toleransi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Kondisi-jambu-mete-di-Desa-Watukamba-Kecamatan-Maurole-Kabupaten-Ende.jpg)