Sabtu, 9 Mei 2026

Berita NTT

Puluhan Pelajar Sulit Akses Internet, Dosen Unflor Minta Pemkab Ende Harus Keluar dari Zona Nyaman

Ia juga menyoroti dampak jangka panjang yang dirasakan guru dan siswa, yang harus berlomba mencari waktu dan tempat untuk bisa mengakses ANBK. 

Tayang:
Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/HO
Sejumlah siswa salah satu sekolah dasar di Kabupaten Ende yang sulit mengakses internet 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Albert Aquinaldo

POS-KUPANG.COM, ENDE – Fenomena miris terjadi di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur dimana puluhan pelajar terpaksa menjalani simulasi Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK) di lokasi-lokasi yang tak layak, bahkan ada yang harus belajar di tengah hutan. 

Meski wilayah mereka sudah memiliki tower BTS, akses internet tetap sulit dijangkau.

Pada Selasa, 24 September 2024, sebanyak 15 pelajar kelas V dari SDK Detuwulu, Kecamatan Maurole, harus menempuh perjalanan ke dalam hutan demi mengikuti simulasi ANBK. Duduk di atas tanah sambil menghadapi gangguan nyamuk, mereka belajar dengan fasilitas seadanya. 

Nasib serupa dialami enam siswa SDN Molekelisamba di Desa Mole, Kecamatan Ndori, yang harus menempuh perjalanan sejauh 2 kilometer untuk belajar di rumah warga yang memiliki akses internet.

Situasi ini mendapat sorotan dari Dominika Dhapa, S.Pd., M.Pd., Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Flores (Unflor). 

Ia menilai, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ende harus segera keluar dari zona nyaman dan bertindak cepat memperbaiki infrastruktur digital, terutama di wilayah-wilayah terpencil.

“Jangan terlena dengan keadaan!” tegas Dominika saat diwawancarai TribunFlores.com, Kamis, 26 September 2024. 

Menurutnya, Pemkab Ende perlu melakukan pemetaan kebutuhan sekolah-sekolah dan meningkatkan kualitas jaringan internet di daerah-daerah yang mengalami kesulitan akses.

Meski Dominika mengapresiasi langkah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ende yang sementara ini menempatkan siswa-siswa dari sekolah yang kesulitan akses internet di sekolah-sekolah terdekat. Namun, ia menekankan bahwa solusi ini hanya langkah awal dan tidak boleh menjadi kebiasaan.

“Pemerintah harus berani keluar dari zona nyaman,” ujarnya. “Jangan terbiasa berpikir, ‘jaringan tak ada, tinggal pindah ke sekolah lain,’ karena ini hanya menunda masalah yang lebih besar.” kata dia.

Ia juga menyoroti dampak jangka panjang yang dirasakan guru dan siswa, yang harus berlomba mencari waktu dan tempat untuk bisa mengakses ANBK. 

Baca juga: Unflor Ende dan PKN STAN Bersinergi Tingkatkan Kualitas Pengelolaan BUMDes

Dominika menambahkan, beban ini juga dirasakan oleh orang tua, yang sering kali harus berjuang mengantar anak-anak mereka ke lokasi dengan jaringan internet yang lebih baik, bahkan ke kota.

“Ada seorang guru dari Manggarai yang harus kuliah sambil berdiri di hutan hingga jam 11 malam karena tak ada jaringan di rumahnya. Ini beban bagi kita semua,” tambahnya.

Dominika Dhapa berharap Pemkab Ende untuk segera mengambil tindakan konkret. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved