Opini

Opini: Priamel dari Santarang

Bagian kedua adalah esai-esai yang merespons karya-karya selain puisi, entah buku cerpen, buku ulasan, novel, maupun karya pementasan.

Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/ROSALIA ANDRELA
Komunitas Sastra Dusun Flobamora menggelar Festival Sastra Santarang (FSS) tahun 2024 dengan tema Ruang dan Raung di Aula Dinas Kominfo Provinsi NTT. 

Versi populernya saya kembangkan dan terbit di rubrik Opini Pos Kupang, sebelum dibukukan. Dengan demikian, batas personal sebuah esai tetap juga mesti didukung oleh integritas dan kapasitas keilmuan sang esais.

Sebagaimana telah saya singgung dalam Prakata buku, sebagian besar esai dalam Menemukan Priamel di Bulan ditulis untuk kebutuhan publikasi, baik sebagai materi pengantar diskusi, sebagai bagian dari prolog dan epilog buku-buku yang dibahas, maupun sebagai esai lepas di media-media cetak dan daring—terutama Jurnal Sastra Santarang, media penyumbang tulisan terbanyak dalam buku tersebut. 

Esai-esai dalam Menemukan Priamel di Bulan dikelompokkan menjadi dua bagian besar. Bagian pertama berisi esai-esai yang merespons puisi, maupun yang merespons karya yang merespons puisi, dalam hal ini novel Madeline Miller yang bertolak dari puisi-puisi klasik Yunani dan Romawi. 

Bagian kedua adalah esai-esai yang merespons karya-karya selain puisi, entah buku cerpen, buku ulasan, novel, maupun karya pementasan. 

Karya-karya yang saya ulas biasanya merupakan karya-karya yang menarik perhatian saya, dan, terutama, terbuka untuk dikomentari berdasarkan keleluasaan tafsir yang bisa diberikan serta kapasitas yang saya miliki. 

Saya menulis lebih banyak ulasan daripada yang dimuat dalam buku ini, terutama ketika menjadi Pemimpin Redaksi Jurnal Sastra Santarang (Maret 2012—Desember 2016). 

Dengan demikian, pemilihan esai-esai dalam buku ini dilakukan berdasarkan kelayakan terbit—ada sejumlah esai sastra yang tidak saya masukkan karena kualitasnya lebih buruk dari esai-esai yang dikumpulkan dalam buku ini—dan berdasarkan tema—sebagian besar esai-esai tentang karya-karya sastra klasik dari periode Yunani dan Romawi, serta komentar atas karya-karya Dante, misalnya, tidak saya masukkan ke dalam buku ini, karena tulisan-tulisan tersebut direncanakan terbit dalam buku tersendiri. 

Contoh lain, sebagian besar esai yang merupakan komentar atas situasi dan catatan pengalaman bersastra, telah saya terbitkan dalam buku Rumah Kertas, Toko Buku dan Punica (2021). 

Ambisi untuk menunjukkan aspek-aspek yang kurang diperhatikan pembaca lain tentu saja ada. Itu yang coba saya kerjakan, misalnya, ketika membahas karya-karya yang merujuk ke Alkitab, seperti puisi Gerson Poyk dan karya-karya Dami N. Toda, juga puisi-puisi Adimas Immanuel. 

Atau, ketika saya membahas novel Madeline Miller, dan merujuk langsung ke puisi Latin yang dirujuk oleh si penulis dalam bahasa aslinya. 

Juga, ketika membandingkan puisi-puisi Felix Nesi dengan puisi-puisi pastoral Vergilius. 

Perspektif semacam itu, tentu saja sulit untuk dimiliki para pembaca karya-karya yang dibahas tersebut yang berada di luar tradisi Kristiani maupun yang tidak mengakses karya-karya berbahasa Latin dalam bahasa aslinya. 

Atau, ketika membahas karya-karya para penulis NTT yang terbit dan beredar secara terbatas. Mencatat berbagai karya berarti juga ikut mempromosikan karya-karya tersebut kepada para pembaca esai. 

Esai saya tentang salah satu buku puisi Jefta Atapeni, yang pernah dimuat di Jurnal Sastra Santarang, misalnya, bahkan diminta sang penyair untuk disertakan dalam cetakan terbaru bukunya. 

Meskipun demikian, banyak pula esai dalam buku Priamel yang lebih berfungsi sebagai respons terhadap tenggat penerbitan, sehingga pertimbangan-pertimbangan pembacaannya justru lebih merupakan tanggapan terhadap referensi yang saya miliki untuk mengomentari ketimbang pertimbangan terhadap perspektif segar yang tidak dimiliki pembaca lain. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved